
Sabtu pagi (17/12) di titik 0 (nol) km (kilometer) kota Yogyakarta tampak padat seperti biasanya. Namun ada yang berbeda di Benteng Vredeburg kali ini yang merupakan salah satu bagian dari pusat kota. Terlihat rombongan-rombongan kecil memakai baju identitas khas komunitas pelajar, jas almamater, dan bahkan seragam sekolah putih abu-abu. Mereka tampak berjalan penuh semangat menuju Gedung Audio Visual Benteng Vredeburg, Malioboro, Yogyakarta. Inilah suasana pada sebuah pagi yang cerah menjelang pembukaan Festival Film Pelajar Jogja (FFPJ) 2011.
Hari pertama FFPJ telah dimulai. Beberapa panitia terlihat sibuk mengatur segala kesiapan, sedangkan para peserta asyik menikmati suasana unik yang tersaji di sekitar Benteng Vedeburg sembari menunggu acara dibuka. Meja registrasi panitia penuh oleh peserta FFPJ, yang berdatangan dari berbagai kota. Tercatat di dalam buku tamu mereka datang dari Banjarnegara, Jakarta, Bekasi, Depok, Surabaya, Jepara, Klaten, dan Lampung.

Pembukaan dimulai dengan doa bersama. Setelah itu lagu Indonesia Raya bergema, dinyanyikan bersama oleh seluruh peserta. Suasana tampak khusuk. Nabila Azwida Faradisa sebagai Direktur FFPJ 2011 kemudian menyampaikan sambutannya. Secara khusus ia berterima kasih kepada seluruh peserta, mitra dan berbagai pihak yang mendukung FFPJ 2011. Nabila juga menyampaikan bahwa FFPJ 2011 bekerja sama dengan Toronto Student Film Festival/TSFF. Tahap awalnya adalah FFPJ akan memutar film-film pelajar yang masuk final dan menang dalam kompetisi yang mereka selenggarakan tahun 2011 ini. Kemudian bulan Mei 2012 nanti perwakilan FFPJ akan berusaha berkunjung ke TSFF untuk mendiskusikan kerja sama yang akan dilaksanakan. Pihak TSFF juga meminta FFPJ dapat memfasilitasi karya-karya pelajar Indonesia yang akan diapresiasi di sana. Setelah Direktur FFPJ menutup sambutannya, kemudian dilanjutkan dengan sambutan Wakil Rektor II Institut Kesenian Jakarta, Bapak Subagjo Budisantoso, M.Sn., sekaligus membuka secara resmi FFPJ 2011. Beliau mewakili koleganya, Dekan FSMR ISI Yogyakarta yang mendadak berhalangan hadir untuk membuka kegiatan. Secara khusus beliau berpesan agar komunitas dan karya film pelajar Indonesia terus dikembangkan ke arah yang lebih baik lagi. Setelah melakukan pemotongan pita sebagai tanda pembukaan FFPJ 2011, acara dilanjutkan dengan pemutaran film pembuka, yaitu Laskar Pencerah, karya sutradara Vani Dias Adiprabowo yang baru saja lulus dari jurusan film IKJ.
Film pendek Laskar Pencerah bercerita tentang seorang anak bernama Laskar yang berusaha meraih mimpinya untuk pergi ke China. Ia belajar di Komunitas Belajar Qoryah Thoyibah Salatiga yang mengedepankan nilai-nilai humanisme, egalitarianisme, dan pendidikan kritis secara umum. Komunitas ini mengadakan sayembara menulis gagasan untuk memilih karya terbaik yang akan dikirim ke China. Ketika Laskar datang terlambat untuk presentasi gagasannya, maka ia pasrah. Namun pembimbing di komunitas belajar itu mengijinkan Laskar untuk mempresentasikan gagasannya. Tak disangka Laskar terpilih. Laskar akhirnya menolak untuk pergi ke China karena kondisi orang tuanya sedang sakit. Ia minta dana yang seharusnya untuk membiayai dirinya ke China dialihkan untuk membiayai pengobatan orang tuanya agar segera sembuh seperti sedia kala.
Seminar Nasional “Peran Komunitas Film Pelajar dalam Mendukung Praktik Bhinneka Tunggal Ika di Sekolah”
Pembicara seminar ini adalah Ki Hartanto, M.Sn., Budhi Hermanto dan Drs. Purwo Putranto. Ki Hartanto, M.Sn. merupakan alumni SMA Negeri 1 Teladan Yogyakarta yang saat ini menjadi dosen film di IKJ dan pengasuh padepokan film Grabag. Budhi Hermanto adalah seorang aktivis media komunitas dari Combine Indonesia. Sedangkan Drs. Purwo Putranto merupakan seorang pendidik di SMA Negeri 1 Teladan Yogyakarta. Moderator seminar ini adalah Satmoko Budi Santoso, seorang penulis dan praktisi seni Yogyakarta.

Pada kesempatan pertama, Ki Hartanto menyampaikan bahwa membuat film adalah suatu langkah untuk belajar tentang kehidupan. Belajar membuat film juga merupakan bagian dari pendidikan karakter. Langkah awal yang bisa dilakukan adalah menjadikan film sebagai kegiatan ekstrakurikuler atau menjadi pelajaran muatan lokal di sekolah. Hal ini paling tidak bisa mendorong pertumbuhan dan perkembangan komunitas film pelajar di sekolah. Komunitas film pelajar harus mampu menyumbangkan sesuatu yang berarti bagi lingkungannya.
Budhi Hermanto, menyampaikan materinya secara asyik dan komunikatif. Pertanyaan yang salah pun bisa menjadi sarana untuk belajar. Film adalah sarana yang jauh lebih dalam, karena semua kecerdasan kita dipaksa terlibat. Yaitu, riset interpersonal, analisa-logika, dsb. Ia berpesan jangan berorientasi dengan hasil akhir. Menyampaikan informasi, aktualisasi diri, memvisualisasikan suatu tulisan, merupakan suatu proses. Semua lesson learn itu yang perlu dicatat dengan baik. Mulai dari pra, pro, dan pascaproduksi. Menurutnya, kebhinnekaan merupakan nasionalisme keadilan. Mari kita ubah Indonesia menjadi lebih baik. Anda tidak akan tenggelam saat jatuh ke danau, tapi anda tenggelam jika anda jatuh dan diam saja.
Drs. Purwo Putranto menyebut dirinya provokator film di sekolah. Beliau menggunakan film sebagai media pembelajaran. Film dapat menjadi sarana untuk studi ilmu lainnya yang lebih luas lagi. Melalui film, pelajar diajak untuk berpikir kritis dan menyikapi berbagai persoalan secara jernih. Pak Pur, beliau biasa dipanggil begitu, juga memaparkan tentang betapa pentingnya pemahaman yang utuh, jernih dan tepat tentang Bhinneka Tunggal Ika. Praktik-praktik Bhinneka Tunggal Ika dapat dilakukan di sekolah maupun lingkungan terdekat secara sederhana. Misalnya membangun kesepahaman atas perbedaan dan masalah lainnya. Proses membangun kesepahaman inilah praktik nyata yang akan bermanfaat bagi komunitas film pelajar.
Sesi diskusi di dalam seminar ini berjalan hangat. Peserta tampak antusias bertanya dan menyampaikan pendapatnya. Dengan penuh semangat dan kesabaran para pembicara melayani seluruh pertanyaan peserta sampai tuntas.
Setelah seminar nasional selesai, acara dilanjutkan dengan istirahat dan kemudian pemutaran film-film pelajar yang menjadi nomine FFPJ 2011. Gedung Audio Visual tampak penuh sesak. Penonton tampak serius menonton 10 film pendek yang berasal dari berbagai sekolah dan daerah itu.
Klinik Film Laskar Pencerah
Pemutaran film nomine FFPJ 2011 berakhir sekitar pukul 15.00 wib. Acara dilanjutkan dengan istirahat dan kemudian Klinik Film dengan menghadirkan sutradara film pendek Laskar Pencerah, yaitu Vani Dias Adiprabowo.
Secara khusus Vani memaparkan proses di balik pembuatan film Laskar Pencerah. Ia bercerita tentang berbagai kesulitan yang dihadapi, baik pada tahap praproduksi sampai dengan pascaproduksi. Peserta antusias mengikuti sesi ini. Beberapa pertanyaan pun diajukan peserta dan dijawab Vani dengan tidak kalah semangatnya.
Vani juga membawa aktor filmnya di podium kegiatan. Ia bercerita tentang proses sebelum produksi dimulai. Tentang kesulitas-kesulitan latihan akting dan lainnya. Peserta klinik film mendapatkan banyak analisis kasus yang menarik dari Vani. Saking asyiknya acara ini, kegiatan jadi agak molor sampai setengah jam.
2 days 1 hour ago
2 days 1 hour ago
2 days 2 hours ago
2 days 2 hours ago
3 days 10 hours ago
3 days 11 hours ago
6 days 10 hours ago
6 days 10 hours ago
1 week 1 day ago
1 week 2 days ago