Dunia pendidikan menengah kejuruan berbasis teknologi informasi dan komunikasi di Tasikmalaya berkembang dengan baik. Alumninya sebagian besar terserap di lapangan kerja. Sementara itu sisanya melanjutkan ke perguruan tinggi. Untuk masa yang akan datang, sumber daya manusia dibidang ini masih sangat dibutuhkan oleh kalangan industri maupun lembaga swasta dan pemerintah. Antusiasme calon pelajar/mahasiswa untuk belajar dan berkarir dibidang ini juga besar. Sehingga, peluang untuk mengembangkan pendidikan dibidang ini masih terbuka lebar. Program studi film dan televisi merupakan salah satu yang dapat dikembangkan dan saling diintegrasikan dengan bidang teknologi informasi dan komunikasi.
Hal di atas disampaikan oleh Drs. H. Nanang Ma’mur, M.Pd., Kepala Sekolah SMK As-Shofa Tasikmalaya dalam kegiatan Lokakarya Prospek Pengembangan SMK Dalam Era Industri Kreatif. Lokakarya ini merupakan kerja sama antara Laboratorium Pengembangan Media Komunitas Fakultas Film dan Televisi Institut Kesenian Jakarta (FFTV IKJ), Musyawarah Kerja Kepala Sekolah Tasikmalaya dan Yayasan Pendidikan dan Pengembangan Masyarakat Pondok Pesantren As-Shofa Tasikmalaya. Kegiatan lokakarya diselenggarakan pada tanggal 15 Desember 2009, di Aula Yayasan Pendidikan dan Pengembangan Masyarakat Pondok Pesantren As-Shofa, Padakembang, Singaparna, Tasikmalaya, Jawa Barat,
Ki Hartanto, M.Sn., dari FFTV IKJ dalam lokakarya ini menyampaikan bahwa ikhtiar untuk mengembangkan pendidikan berbasis teknologi informasi dan komunikasi, khususnya film dan televisi, harus dibarengi dengan pemahaman bahwa tantangan dan peluang di dunia industri kreatif memerlukan inovasi yang cerdik. Strategi dalam pengelolaan kurikulum harus tepat dan diimbangi dengan dukungan sumber daya manusia pendidik yang benar-benar memahami karakter bidang keahlian yang ada. Sumber daya teknologi saat ini sudah relatif terjangkau untuk digunakan sebagai alat untuk berlatih, dan bahkan sekolah bisa memanfaatkannya secara lebih jauh untuk melakukan program teaching factory. Ki Hartanto juga menegaskan bahwa kesempatan kerja masih sangat terbuka. Sekolah harus rajin menjalin hubungan dengan dunia usaha dan industri agar peluang ini dapat dimanfaatkan dengan baik.
Karya-karya siswa yang selama ini hanya disimpan di sekolah, seharusnya dicarikan panggungnya, misalnya festival. Sehingga, ada kesempatan untuk berinteraksi dengan kalangan yang lebih luas. Dengan bimbingan yang tepat dari guru pendamping, karya siswa yang berbentuk film, program televisi, animasi, dll, semakin lama akan berkembang. Apabila masih dirasa kurang memuaskan, dapat dilakukan pendampingan oleh kalangan profesional yang memiliki keahlian tambahan dibidang pengajaran. Hal ini dilakukan untuk mensinergikan antara teori dan praktek di lapangan. Selain itu, sekolah juga dapat mencoba untuk melakukan penjajagan pendirian televisi komunitas. Melalui media ini, dapat dilakukan kegiatan yang sinergis antara guru, pelajar dan masyarakat sekitar sekolah. Kegiatan yang bertujuan untuk mendorong jiwa wirausaha berbasis media audio visual juga dapat dilakukan di sekolah. Beberapa poin ini secara silih berganti disampaikan oleh Subagyo Budisantoso dan Tomy W. Taslim dari FFTV IKJ.
Pada sesi diskusi, ada beberapa poin menarik yang disampaikan oleh para peserta. Diantaranya adalah bahwa media film dan televisi masih menjadi trend yang disukai pasar. Media ini, sama halnya dengan dunia teknologi informasi dan komunikasi secara umum, membasiskan salah satu kegiatannya pada produksi content. Pada sisi inilah lembaga pendidikan bisa memainkan perannya untuk menciptakan sumber daya manusia yang dapat memproduksi content dengan baik. Selain itu, media film dan televisi juga dapat digunakan sebagai alat pendukung kegiatan belajar mengajar oleh guru dan siswa. Salah seorang peserta menyampaikan bahwa ia sedang berusaha untuk menciptakan metode dan bahan pengajaran berbasis audio-visual, yang disesuaikan dengan situasi dan kondisi setempat. Hal ini tidak semata untuk kegiatan presentasi dan diskusi di depan kelas, namun juga dilakukan di lapangan. Guru dan siswa bersama-sama menjadi bagian dari kegiatan produksi media. Setelah itu, dapat dilakukan diskusi bersama untuk menganalisis persoalan yang dikaji dalam media/film. Kegiatan ini secara bersamaan juga merupakan sebuah pendidikan media dan mengasah kepekaan seni siswa. Di bagian akhir diskusi, beberapa peserta menegaskan bahwa pengembangan pendidikan film dan televisi di Tasikmalaya harus bisa diwujudkan segera, sebagai bagian dari upaya menyambut dunia industri kreatif yang telah dicanangkan oleh pemerintah.
Lokakarya diikuti oleh 22 Kepala Sekolah SMK/SMA se-Tasikmalaya, Jawa Barat. Kegiatan yang berlangsung selama setengah hari ini terselenggara dengan dukungan seorang profesional di bidang film yang sudah senior, yaitu Sri Atmo yang berdomisili di Singaparna, Tasikmalaya, Jawa Barat. Sri Atmo merupakan seorang Director of Photography yang telah malang melintang di dunia perfilman dan pertelevisian nasional sejak tahun 70-an. Sri Atmo adalah alumni dari Program Studi Film FFTV IKJ. Beberapa karya sinematografinya yang monumental adalah Naga Bonar, Ayahku, Irisan-Irisan Hati, dan puluhan judul serta ratusan episode sinetron.
8 min 48 sec ago
10 min 20 sec ago
12 min 46 sec ago
13 min 59 sec ago
1 day 6 hours ago
1 day 8 hours ago
2 days 11 hours ago
2 days 16 hours ago
4 days 5 hours ago
4 days 5 hours ago