Workshop Film Dokumenter Sejarah di IKJ
Pada tanggal 6-10 Agustus 2012 lalu, bertempat di auditorium Institut Kesenian Jakarta, telah dilaksanakan kegiatan workshop Dokumenter Sejarah kerja sama antara Direktorat Sejarah dan Nilai Budaya Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dengan Institut Kesenian Jakarta (IKJ). Tujuan workshop ini adalah membekali 66 perwakilan pelajar dari 33 provinsi di Indonesia dengan pengetahuan produksi dokumenter. Peserta workshop kemudian akan membuat film dokumenter di daerahnya masing-masing dan mengirimkan karyanya untuk mengikuti Lomba Penggalian Sejarah dalam Bentuk Audio Visual 2012.
Setelah dilakukan pembukaan oleh perwakilan Direktorat Sejarah dan Nilai Budaya Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dan Wakil Rektor II - Institut Kesenian Jakarta (IKJ), yaitu Subagjo Budisantoso, M.Sn., workshop langsung dimulai dengan materi riset sejarah. Workshop diisi oleh Dr. Agus Mulyana, M.Hum., sejarawan dan dosen dari Universitas Pendidikan Indonesia Bandung. Melalui paparan yang jelas dan sesekali diiringi canda lucu, pemateri memberikan pemahaman kepada peserta bahwa riset sejarah membutuhkan keseriusan, ketelitian, perhatian dan sikap kritis. Pemilihan topik, pemilihan dan komunikasi dengan narasumber, metode pengumpulan data, dan lainnya harus dilakukan dengan baik agar mendapatkan hasil riset yang baik juga. Selain itu, dikarenakan riset ini untuk keperluan pembuatan film dokumenter, maka perlu diperhatikan juga kesiapan subyek/narasumber berhadapan dengan kamera, elemen visual dan suara pendukung. Sesi hari pertama yang dimulai pukul 10.00 ini berakhir pukul 15.30 wib. Walaupun sebagian besar peserta dalam keadaan puasa ramadhan, sesi ini berjalan dinamis dengan ragam pertanyaan dan komentar antusias dari peserta.
Sesi hari pertama diakhiri dengan materi Pengantar Dokumenter yang disampaikan oleh Tomy W. Taslim, M.Sn., dosen di Fakultas Film dan Televisi Institut Kesenian Jakarta serta pengelola situs filmpelajar.com. Sesi ini membahas tentang pengertian dan jenis dokumenter, pengelolaan gagasan/ide, unsur/elemen teknis pembentuk gambar dan suara, serta tahapan yang lazim dilakukan dalam produksi film dokumenter. Materi disampaikan secara ringkas dengan disertai contoh-contoh hasil karya film dokumenter yang dibuat oleh pelajar. Selain itu, pemateri juga memberikan garis bawah bahwa film dokumenter yang akan dibuat peserta workshop di masing-masing daerah sebaiknya komunikatif. Hal ini ditegaskan karena karya film peserta diharapkan ditonton oleh kalangan pelajar dan membuat mereka menyukai sejarah. Salah satu cara untuk menguji apakah film cukup komunikatif atau tidak dengan memutarnya di lingkungan terdekat, misalnya dipertontonkan di depan kelas. Tanggapan atau komentar penonton awal ini merupakan bahan berharga untuk melakukan perbaikan-perbaikan yang dianggap perlu sebelum film dikirimkan ke panitia lomba. Sesi ini berjalan lancar dan interaktif, serta membuat peserta semakin tidak sabar untuk mengikuti sesi-sesi berikutnya. Sesi terakhir hari pertama ini dimulai pukul 16.00 dan ditutup sesaat sebelum buka puasa bersama antara panitia, peserta dan fasilitator workshop.
Hari kedua, Selasa 7 Agustus 2012, workshop dibuka dengan sesi Bahasa Visual dan Suara. Sesi ini difasilitasi bersama oleh Tomy W. Taslim, Yandy Laurens dan Fazrie Permana dari Fakultas Film dan Televisi Institut Kesenian Jakarta. Sesi ini bertujuan memberikan pemahaman kepada peserta tentang konsep dasar bahasa visual dan suara serta bagaimana cara menggunakannya untuk bertutur dalam dokumenter. Sesi ini juga memberikan kesempatan kepada peserta untuk mengenal dan mengetahui cara mengoperasikan kamera video (handycam) dan perekam suaranya agar optimal. Sesi berikutnya diisi dengan materi penulisan naskah. Sesi ini bertujuan untuk memberikan bekal kepada peserta agar mengetahui kelaziman proses penulisan naskah dokumenter, khususnya pembuatan sinopsis, treatment, mendata kebutuhan shot dan bagaimana membangun struktur cerita yang baik (story telling). Kemudian sesi terakhir diisi dengan materi penyutradaraan. Keseluruhan sesi hari kedua ini berjalan lancar. Kolaborasi fasilitator Yandy Laurens dan Fazrie Permana berhasil menghidupkan suasana dengan diskusi-diskusi kritis yang direspon peserta. Ini menjadi salah satu indikator bahwa forum berjalan hidup dan mendapatkan apresiasi positif dari peserta.
Pada hari ketiga dan keempat, workshop diisi dengan kegiatan praktek. Tim fasilitator dan instruktur dari IKJ mendampingi seluruh peserta workshop dari awal sampai akhir proses, dari penyusunan naskah, shooting sampai dengan editing. Peserta antusias dan menjalani praktek dengan semangat. “Ini kesempatan yang harus dimanfaatkan dengan baik!” kata Regina dari SMAN 7 Manado dengan raut wajah serius. Peserta lainnya tidak kalah antusias. Stefanus dari SMAK Immanuel Pontianak menyampaikan usulan, “Nanti setelah workshop kita bikin jaringan komunikasi interaktif melalui internet ya? Jadi komunikasi seluruh peserta tidak putus pascaworkshop.”
Seluruh rangkaian kegiatan diakhiri dengan menonton hasil workshop dan melakukan review atas proses dan hasil workshop. Review dipandu oleh Tomy W. Taslim dengan menghadirkan dosen film FFTV IKJ, yang juga merupakan Wakil Rektor II – IKJ, Subagjo Budisantoso, M.Sn. Kegiatan penutup ini berakhir pada pukul 20.00 wib dan pada hari berikutnya peserta diberi kesempatan untuk melakukan studi lingkungan di sekitar kota Jakarta.



Comments
Editing film