Setiap anggota filmpelajar.com diperkenankan menuliskan pengalaman, ajakan diskusi, informasi dan tips terkait dengan film ataupun aktivitas lain seputarnya.
Ingin segera menulis? Klik di sini.
Karya film (pendek) pelajar (tingkat menengah atas) Indonesia adalah sebuah aset kebudayaan yang sarat makna. Di balik karya tersebut tercatat sebuah kerja pemikiran, olah gagasan, aktivitas kreatif, dan persinggungan realitas. Mimpi sepihak sutradara tidak akan terwujud tanpa dukungan tim yang baik. Egoisme akan bernegosiasi dengan kolektivisme. Estetika akan berkolaborasi dengan ketersediaan logistik. Kebebasan ekspresi personal/kelompok berhadapan dengan visi sekolah/kampus/tempat belajar. Maka, pada tiap karya yang dilahirkan, terdapat sebuah proses panjang pembelajaran kehidupan-kebudayaan. Di sinilah karya film pelajar menemukan konteksnya.
***
Penciptaan seni film yang dilakukan oleh pelajar, khususnya tingkat menengah atas dan perguruan tinggi, dalam lebih kurang satu dekade ini berkembang pesat. Tumbuh kembangnya sekolah dan komunitas luar sekolah yang memiliki perhatian pada pembelajaran produksi film semakin menambah semarak dunia seni gambar gerak ini. Ratusan, bahkan ribuan karya diproduksi dengan berbagai kualitas. Alat produksi pun beragam jenis. Keterampilan juga begitu. Apapun kondisinya, ini sebuah peristiwa kebudayaan yang penting untuk diapresiasi karena memiliki latar belakang proses dan target/capaian yang berbeda dengan jaman Soemardjono ketika belajar film di Cine Drama Institute Yogyakarta pada penghujung tahun 40an. Pembelajaran film hari ini memiliki beragam motivasi. Pembelajaran film era Soemardjono dengan salah satu mentornya yang legendaris, yaitu Dr. Huyung, bertujuan untuk menjadikan peserta didiknya tenaga terampil pembuat film.
Saya kira, sebagian besar film (pendek) pelajar hari ini lahir dari cerita yang disusun dengan jerih payah yang tidak gampang. Permasalahan teknis perangkat lunak bajakan yang umumnya digunakan untuk melakukan penyuntingan film juga masih belum menemukan solusi jitu, walaupun tawaran menggunakan open source sudah bermunculan. Belum lagi pemahaman tentang hak atas kekayaan intelektual/HAKI, yang lazimnya terkait penggunaan sound (musik, lagu, efek). Persoalan-persoalan ini perlu segera dipahami dan dicarikan solusi bersama agar ke depan tidak menjadi ganjalan. Kejernihan masalah ini akan menjadi kekuatan kebudayaan komunitas dan karya film pelajar Indonesia, sehingga mampu tampil elegan dan bermartabat di panggung film pelajar dunia.
Persoalan teknis pra-produksi film adalah sebuah hal. Permasalahan produksi adalah hal selanjutnya. Diseminasi adalah mata rantai terakhir dari sebuah kerja besar film. Masing-masing proses ini alangkah baiknya kalau sejak awal disiapkan dengan baik. Paling tidak, sebuah film ketika diproduksi sudah diancangkan mau diputar dimana. Kira-kira sederhananya begitu. Namun, dalam konteks film (pendek) pelajar apakah semata memang begitu?
Diseminasi karya film (pendek) pelajar merupakan aktivitas kebudayaan. Ia tidak semata kegiatan teknis mempersiapkan proyektor, sound, layar dan sebuah ruang gelap. Ia juga bukan semata sebuah perayaan bernama festival. Menurut Hoenigman, aktivitas adalah wujud kebudayaan sebagai suatu tindakan berpola dari manusia dalam masyarakat. Wujud ini sering pula disebut dengan sistem sosial. Sistem sosial ini terdiri dari aktivitas-aktivitas manusia yang saling berinteraksi, mengadakan kontak, serta bergaul dengan manusia lainnya menurut pola-pola tertentu yang berdasarkan adat tata kelakuan. Sifatnya konkret, terjadi dalam kehidupan sehari-hari, dan dapat diamati dan didokumentasikan.
Berdasarkan paparan singkat di atas dapat disimpulkan secara sederhana bahwa aktivitas diseminasi karya film (pendek) pelajar memerlukan visi. Visi inilah yang akan menjadi pedoman bagi pola-pola kegiatan yang dilakukan. Sehingga, ketika individu maupun sekelompok pelajar, mahasiswa, komunitas dan lainnya ingin melakukan proses diseminasi karya, langkah awal yang perlu ditegaskan adalah merumuskan visi. Tanpa visi, kegiatan diseminasi kurang memiliki bobot dan dapat terjebak ke dalam praktik seremonial semata. Celakanya lagi kalau ditunggangi kepentingan politik yang tidak jelas juntrungannya. Dengan perumusan visi yang tepat, strategi program yang baik, pelaksanaan proses yang efisien dan efektif, maka proses diseminasi karya film pelajar dapat menghasilkan manfaat yang maksimal bagi pelaksana, masyarakat penonton dan stakeholder lainnya.
Lazimnya karya film (pendek) pelajar ditampilkan melalui festival, baik yang sifatnya kompetisi maupun tidak. Melalui festival, sebuah karya diharapkan dikenal dan menemukan panggungnya. Langkah ini tepat, tetapi bukan pula satu-satunya. Roadshow yang juga telah sering dilakukan menjadi pilihan alternatif. Pertanyaannya sekarang adalah bagaimana menjaga keberlanjutan proses ini? Mengapa pula harus berlanjut?
Keberlanjutan proses kebudayaan dalam dunia film (pendek) pelajar di Indonesia tergantung dari komunitas film pelajar itu sendiri dan stakeholdernya (sekolah, kampus, pendidik, pemerintah, masyarakat). Keberlanjutan produksi ide-gagasan kreatif akan mendukung penulisan skenario. Keberlanjutan aktivitas menulis akan mendukung aktivitas produksi-shooting yang menghasilkan film. Karya film yang lahir secara rutin dan berkualitas akan mendukung pihak programmer/kurator untuk merancang program film yang baik. Pihak sekolah/kampus juga akan mendapatkan manfaat apabila ada karya film dalam jumlah cukup banyak, berkualitas, dan pastinya tidak keberatan menjadikan salah satu ruangan sekolahnya sebagai bioskop mini. Sementara itu, kalangan pendidik (film) juga tambah bersemangat apabila peserta didiknya memiliki effort lebih untuk berkarya. Sedangkan masyarakat, baik sebagai penonton maupun pihak swasta yang ingin bermitra dengan aktivitas kebudayaan ini, juga memperoleh manfaat dengan dinamika seperti ini. Pemerintah pun harus mampu memainkan perannya; ing ngarso sung tulodho, ing madyo mangun karso, tut wuri handayani. Semua ini wajib dipayungi dengan visi yang jelas, yang baik, yang mampu menjadikan rangkaian proses dan hasilnya memiliki karakter kuat. Ya, proses-proses ini pun merupakan pendidikan karakter.
Saya mencoba berhitung begini; di Indonesia terdapat 33 propinsi. Tiap propinsi ada 5 sekolah/kampus yang memproduksi film (pendek), masing-masing 2 buah per tahun. Masing-masing film durasinya 10 menit. Maka, dalam waktu bersamaan ada 33 propinsi x 5 sekolah/kampus x 2 film pendek = 330 film pendek. Jumlah ini, kalau mampu dipertahankan tiap tahun, cukup sebagai bahan awal untuk menjaga keberlanjutan proses kebudayaan film pelajar. Lambat laun, saya kira kualitas akan semakin baik, kuantitas pun bertambah. Hal ini akan menjadikan para pihak yang ingin menjadi bagian dari kerja-kerja kebudayaan film pelajar menemukan kepastian. Kepastian inilah yang menjadi bekal untuk merancang agenda kerja ke depan yang lebih terstruktur dan terukur. Siapa yang harus dilibatkan-melibatkan diri dalam aktivitas kebudayaan ini? Mari kita saling mengidentifikasi diri dan mencoba bergerak semampunya, seikhlasnya, dengan penuh cinta. Saya sendiri mencoba berkontribusi sedikit untuk mendukung hal ini melalui pendirian dan pengelolaan filmpelajar.com sebagai ruang belajar belajar bersama, berbagi dan silaturahmi komunitas dan karya film pelajar Indonesia. Di lapangan, saya mencoba berkarya dengan teman-teman pelajar dan profesional melalui Sanggar Kelapa Indonesia.
Lalu, bagaimana dengan diseminasi di tingkat internasional? Kalau saja apa yang telah saya paparkan di atas dapat dilakukan dengan baik oleh teman-teman komunitas film pelajar Indonesia, maka panggung internasional bukanlah sebuah hal yang perlu dilebih-lebihkan. Para programmer/kurator/distributor film (pendek) pelajar internasional akan berlomba meminang karya film pelajar Indonesia. Secara teknis tidak sulit untuk berkomunikasi dengan mereka. Internet telah membuka hampir segalanya untuk teman-teman pelajar yang kreatif dan memiliki keberanian untuk berkarya. Kekuatan kebudayaan film pelajar Indonesia seharusnya mampu menjadi cahaya bagi sinema pelajar dunia. Insya Allah.
***
Ikhtiar pelajar Indonesia untuk lebih serius belajar mencipta film sudah dimulai sejak tahun 40an. Paling tidak fakta ini terlacak melalui adanya Cine Drama Institute di Yogyakarta dan melahirkan Soemardjono, salah seorang yang dapat dikatakan praktisi awal film Indonesia yang berkarya bersama-sama dengan Usmar Ismail, Asrul Sani, Djamaludin Malik, Djadug Djajakusuma, dll. Setelah itu, muncul bermunculan lembaga pendidikan film lainnya yang mencetak filmmaker professional. Lapangan praksis dunia film Indonesia sampai dengan kemunculan revolusi digital tahun 1990an terkondisikan bahwa pembelajaran seni film outputnya adalah menjadi filmmaker professional. Hal ini merupakan sebuah keniscayaan. Namun, ketika lingkungan gagasan maupun praksis seni film berkembang, maka output pembelajaran seni film pun juga tidak semata menjadi filmmaker professional. Pada titik inilah terjadi semacam reartikulasi pembelajaran film oleh peminatnya. Pada titik ini jugalah kerja diseminasi tidak semata berupa wujud fisik penyebaran-distribusi-ekshibisi film, namun juga tawaran gagasan di belakangnya yang mendorong gerakan kebudayaan, gerakan menuju peradaban yang lebih baik.
*
Tulisan ini telah dipublikasikan melalui Majalah LPM Hayam Wuruk, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Diponegoro, Semarang, Jawa Tengah, 2011.
8 min 48 sec ago
10 min 20 sec ago
12 min 46 sec ago
13 min 59 sec ago
1 day 6 hours ago
1 day 8 hours ago
2 days 11 hours ago
2 days 16 hours ago
4 days 5 hours ago
4 days 5 hours ago