Home | Blogs | adyanata's blog

Lembaga Sensor yang Tidak Menyensor

Dari sekian ratus ribu cerita elektronik yang ditayangkan oleh televisi swasta pada dasarnya harus di sensor dulu oleh lembaga yang berwenang, sehingga apa yang disuguhkan ke masyarakat indonesia mempunyai nilai pendidikan baik itu dari segi isi ataupun dari perilaku yang ditayangkan,terkait dengan judul yang saya suguhkan, betapa naifnya lembaga ini karena setiap malam masyarakat indonesia digiring oleh cerita sinetron yang tidak mendidik secara umum hanya menampilkan sifat-sifat kebrutalan dan tidak mengikuti norma norma kehidupan sosial di masyarakat kita bangsa indonesia, apa yang terjadi pada lembaga sensor ini?
akibat dari tidak disensornya sinetron yang di tayangkan televisi swasta sangat berdampak pada generasi pemuda kitayang masih labil kejiwaannya dan mudah terpengaruh dari pihak luar lingkungannya, saya ceritakan sebuah kasus yang menimpa seorang siswa di sebuah sekolah menengah pertama yang di perbudak oleh kawannya sendiri selama 1 tahun, perbudakan ini meliputi setoran dana ke kelompok siswa setiap hari dan perlakuan yang tidak wajar dari kelompok siswa tersebut sehingga menurunkan semangat belajar siswa yang di perbudak, kasus ini ketahuan setelah siswa ini tidak tahan dengan perlakuan dari kawannya yang merasa memiliki segalanya, karena jarang masuk sekolah, orang tua siswa tersebut dipanggil pihak sekolah untuk mempertanyakan apa latar belakang siswa tersebut tidak masuk sekolah, nah dari hasil interogasi baru terungkap perbudakan tersebut, dan para pelaku mengaku mengikuti apa yang ditayangkan oleh televisi, sungguh merupakan kemunduran dan kehancuran bagi generasi bangsa kita di daerah-daerah dan pelosok negeri ini. sungguh ironis sekali lembaga sensor tidak menyensor

Comments

Halo teman :-) Peran lembaga

Halo teman :-)

Peran lembaga sensor di negara kita ini memang tidak sederhana. Ia tidak saja sekadar menggunting film seluloid maupun pita video yang isinya beragam. Ia juga harus memahami dinamika isi/content itu sendiri dan masyarakat penonton yang berada di sekitarnya. Maka, ada yang mengusulkan lembaga sensor diganti dengan lembaga klasifikasi film. Jadi, bukan filmnya yang dipangkas, tetapi penontonnya yang diklasifikasi. Kira-kira lebih efektif yang mana ya? Para pihak yang mengusung 2 opsi ini tentu memiliki argumennya masing-masing.

Di dunia televisi, peran Komisi Penyiaran Indonesia juga penting. Lembaga ini juga memiliki tugas dan tanggungjawab atas isi/content yang baik. Jika ada teman-teman yang merasa keberatan dengan tayangan televisi, bisa melaporkannya ke KPI. Info lengkap mengenai hal ini silakan klik di: http://www.kpi.go.id/

Lalu, bagaimana dengan sikap kita sebagai pembelajar film?

Hmm.. mari kita belajar film (produksi, kritik, dll) dengan baik. Tiap tahap memiliki konsekwensinya masing-masing dan tidak terpisahkan. Kita tidak perlu takut "nilai jelek" yang di-stempel oleh orang lain atas hasil belajar kita. Belajar film menurut saya juga belajar hidup, yang tiap tahapnya bisa bertemu dengan hal-hal yang ajaib :-)

Setiap anggota filmpelajar.com diperkenankan menuliskan pengalaman, ajakan diskusi, informasi dan tips terkait dengan film ataupun aktivitas lain seputarnya.

 

Ingin segera menulis? Klik di sini.


 

Diselenggarakan oleh:
 

PPMA FFTV IKJ
 

Yayasan WAVI

 

 

 

Didukung oleh:

 

User login

blog | bantuan | tentang kami | ikuti kami:  twitter.com/filmpelajar

Pembelajar Film
  • Yogi Pratama, SMK NEGERI 1 KAWUNGANTEN, Jawa Tengah
  • intantirani8, SMKIT BPS&k 2 JAKARTA TIMUR, DKI Jakarta
  • Misbah, SMA Neger 1 Probolinggo, Jawa Timur
  • Risyad Abdala R..., SMAN 1 CIBADAK RSBI, Jawa Barat
  • Dhana jaya, Smk negeri 3 batu, Jawa Timur
  • xhians, SMK BINA INFORMATIKA, DKI Jakarta
  • Riko Aditya Saputra, SMAN 1 CIBADAK, Jawa Barat
  • bolokoconmo, universitas siliwangi, Jawa Barat
  • sinema60, SMAN 60, DKI Jakarta
  • Geo Pamuji, SMA PGRI 2 KAYEN-PATI, Jawa Tengah

 

Beberapa hari terakhir ini, isu internet dengan jejaring sosial nya menyeruak ke permukaan. Beberapa remaja putri dikabarkan hilang dan diculik setelah bertemu dengan teman barunya melalui situs jejaring sosial. Begitu merusakkah internet? Tentu tidak.

 

Internet adalah sebuah alat, yang tergantung bagaimana dan untuk apa kita menggunakan alat itu. Berikut tips bagaimana menggunakan internet secara cerdas sehingga bermanfaat bagi kehidupan.

 

Klik di sini:
http://filmpelajar.com/page/14-tips-menggunakan-internet-secara-cerdas

Recent comments