Home | Tutorial Membuat Film | Film Dokumenter | Persinggungan Antara Bentuk & Tipe Film

Dokumenter Dalam Klasifikasi Tipe Film

Dalam buku Film Art : An Introduction, David Bordwell menuliskan adanya tipe-tipe film yang dibedakan dari bentuknya.  Bordwell menggunakan kata tipe dan bukan jenis, untuk membedakannya dengan genre (jenis). Tipe-tipe tersebut adalah film fiksi, film dokumenter, film animasi dan film eksperimental.  Bila ditinjau lebih jauh, Bordwell mencoba menyederhanakan tipe-tipe tersebut merupakan kategori dari film yang berkembang dan dibuat di seluruh dunia. Adapun definisinya adalah :

1. Film Fiksi adalah film yang tokoh, peristiwa, ruang dan waktunya direkayasa. Kita tentu mengetahui bila film fiksi ini jauh lebih berkembang karena faktor penceritaannya yang seperti dongeng. Lagipula film-film tipe ini cenderung lebih nyaman untuk dinikmati.

2. Film Dokumenter menjadi lawan dari fiksi, di mana tokoh, peristiwa, ruang dan waktunya tidak direkayasa atau otentik ada dan terjadi.

Anehnya untuk dua definisi terakhir, Bordwell justru merujuk pada penggunaan yang teknis atau personal yaitu :

3. Film Animasi adalah usaha ‘menghidupkan’ sesuatu non-manusia agar mendekati seperti kehidupan manusia itu sendiri.  Secara tradisional, tekniknya sering disebut dengan frame by frame technique, artinya pengambilan shot-nya adalah per gambar.  Jadi bila akan membuat film yang panjangnya 1 detik saja maka harus disediakan 24 gambar bila akan direkam dengan kamera film dan 25 gambar bila menggunakan kamera video.  Sebenarnya teknik film animasi yang kemudian berkembang juga menjadi semakin banyak, misalnya stop motion, clay animation, pixilation, animasi boneka, animasi tiga dimensi yang menggunakan computer-generated imagery (CGI), animasi dua dimensi dan masih banyak lainnya.

4. Film Eksperimental merupakan film yang sangat menekankan ekspresi personal paling dalam dari pembuatnya.  Karya-karya dalam film ini nyaris semuanya abstrak, tentu saja hal ini berkaitan dengan kemunculannya yaitu oleh Hans Richter, Walter Ruttman, Luis Bunnuel, Salvador Dali dan para seniman lainnya yang menjadi pita seluloid ini hanya sebagai pengganti kanvasnya.   Seniman-seniman itu juga lebih banyak merupakan seniman dari aliran dadaisme, surrealisme ataupun impresionisme.  Sehingga film-film dari tipe pada waktu itu ini jarang sekali menjadi konsumsi publik karena sangat sulit dimengerti dan cenderung tidak bercerita.

Akan tetapi umumnya masyarakat pembuat film terutama dokumenter cenderung melawankan film dokumenter dengan film fiksi bila dilihat dari definisi keduanya.  Namun bagaimanapun juga karena film adalah sebuah media, pastinya akan ada singgungan antara dokumenter dengan fiksi yang akhirnya akan memunculkan bentuk, pendekatan ataupun gaya tertentu.

Seringkali singgungan itu terjadi ketika pembuat filmnya secara serius ataupun main-main mencoba untuk mencampurkan antara fakta-fakta otentik dengan sesuatu yang fiktif.  Bisa juga film fiksi yang menggunakan gaya teknis dokumenter sehingga penonton menjadi tertipu karenanya.

Walaupun sangat  terbuka untuk perdebatan, saya mencoba untuk memformulasi kemungkinan percampuran antara dokumenter dengan fiksi. Secara sederhana kita dapat membaginya menjadi 3 tipe besar, yaitu :

1. Fiksi : Apabila kandungan fiktifnya 75 % hingga 100 % dari keseluruhan film.

2. Dokumenter : Apabila kandungan faktanya 75 % hingga 100 % dari keseluruhan film.

3. Semi-Dokumenter : bila kandungan fiktifnya dan faktanya berkisar antara 40 % hingga 60 % dari keseluruhan film ataupun bisa juga seimbang.

Tentu saja yang dapat menghitung prosentase tersebut adalah pembuat film itu sendiri serta tujuan awal para pembuat film, apakah ingin membuat fiksi atau dokumenter dapat turut menentukan tipe yang dipilihnya.

Namun dari dari tipe fiksi sendiri muncul beberapa sub-tipe lagi yang merupakan usaha dari pembuat film ketika melakukan pendekatan terhadap filmnya, yaitu :

4. Doku-Drama : sub-tipe  ini  adalah  sebuah  interpretasi ulang terhadap peristiwa nyata sehingga  hampir  seluruh film cenderung untuk direkonstruksi, misalnya tokoh  dan  ruang  peristiwa  tersebut  akan  dicari  ataupun dibuat ulang agar dapat semirip mungkin dengan aslinya. Contoh dari film sub-tipe ini adalah  JFK (Oliver Stone),  G30S/PKI (Arifin C. Noer),  Johny Indo (Franky Rorimpandey), All The President’s Men (Alan J. Pakula) dsb.

5. Mockumentary  : sub-tipe ini biasanya mengadopsi gaya teknis yang umumnya digunakan film dokumenter,  misalnya  hand-held  camera dan available light (sinematografi), wawancara (mise en scene), cut-away (editing) dan narasi (suara) yang  mampu  menipu penonton  sehingga  seringkali film dengan model seperti ini dikira dokumenter.  Pendekatan dalam filmnya dibuat komedi ataupun satir dengan tujuan menganalisa peristiwa dan isu yang sedang terjadi dengan memanfaatkan setting fiktif.  Contoh dari film sub-tipe ini adalah This Is Spinal Tap (Rob Reiner) dan 24 Hours Party People (Michael Winterbottom).

 

Seringkali ada juga film fiksi yang menggunakan setting peristiwa nyata, sehingga pembuat filmnya harus merekonstruksi peristiwa, ruang dan waktunya seperti yang dilakukan oleh doku-drama, namun tokoh-tokoh yang dihadirkannya adalah tokoh fiktif.  Contoh filmnya adalah Titanic (James Cameron).

Ikuti tip dan tutorial membuat film di sini.

 

Kamu punya tip atau ingin berbagi pengalaman? Tulis segera di sini.


 

Diselenggarakan oleh:
 

PPMA FFTV IKJ
 

Yayasan WAVI

 

 

 

Didukung oleh:

 

User login

blog | bantuan | tentang kami | ikuti kami:  twitter.com/filmpelajar

Pembelajar Film
  • hanggarjita, SMAN 60 JAKARTA, DKI Jakarta
  • Ardiansyah Pratama, SMK BPS&K II JAKARTA TIMUR JURUSAN BROADCAST FILM, DKI Jakarta
  • agung nuryana, SMA MANDALAHAYU, Jawa Barat
  • hendra susanto, SMAK Stella Maris Surabaya, Jawa Timur
  • tabie, UMN, DKI Jakarta
  • Bernadet Evelyn, YSKI, Jawa Tengah
  • Prasanti Puji, SMK Negeri 1 Cimahi, Jawa Barat
  • Geo Pamuji, SMA PGRI 2 KAYEN-PATI, Jawa Tengah
  • Yogi Pratama, SMK NEGERI 1 KAWUNGANTEN, Jawa Tengah
  • intantirani8, SMKIT BPS&k 2 JAKARTA TIMUR, DKI Jakarta

 

Beberapa hari terakhir ini, isu internet dengan jejaring sosial nya menyeruak ke permukaan. Beberapa remaja putri dikabarkan hilang dan diculik setelah bertemu dengan teman barunya melalui situs jejaring sosial. Begitu merusakkah internet? Tentu tidak.

 

Internet adalah sebuah alat, yang tergantung bagaimana dan untuk apa kita menggunakan alat itu. Berikut tips bagaimana menggunakan internet secara cerdas sehingga bermanfaat bagi kehidupan.

 

Klik di sini:
http://filmpelajar.com/page/14-tips-menggunakan-internet-secara-cerdas

Recent comments