Ikuti tip dan tutorial membuat film di sini.
Kamu punya tip atau ingin berbagi pengalaman? Tulis segera di sini.
A. MENYAMPAIKAN KEBENARAN
Sampai hari ini, masih banyak yang percaya bahwa film dokumenter berfungsi untuk menyampaikan dan menampilkan kebenaran dalam kehidupan manusia, sehingga pembuat film dokumenter dengan sekuat tenaga akan menggunakan seluruh sumber daya dan sarana yang ada untuk mewujudkannya. Tentu saja apa yang disajikan oleh para pembuat film dokumenter adalah footage dari masa kini ataupun masa lalu untuk mengeksplorasi subjek tertentu, termasuk peristiwa sejarah dan peristiwa kekinian, juga fenomena alam, profil pesohor, seni–budaya serta segala macam tema yang bisa dibayangkan.
B. GAYA DAN SUDUT PANDANG (POINT OF VIEW)
Film dokumenter secara signifikan akan selalu dibuat bervariasi terutama dalam aspek gaya dan sudut pandangnya. Film dokumenter yang dibuat secara konvensional, seperti In Search of Mozart, selalu menggunakan footage (gambar bergerak) dan foto (gambar diam) untuk mengantarkan penonton masuk ke dalam subjeknya, yang dalam kasus ini adalah kehidupan dan dunia musik Wolfgang Amadeus Mozart ketika muda.
Pada spektrum gaya yang lain, film dokumenter juga dibuat dengan pendekatan eksperimental, contohnya dalam film Mayhem (1987) karya Abigail Child, di mana ekspresi pribadi sangatlah kuat dengan menggunakan jukstaposisi gambar yang tak terduga.
Para pembuat film dokumenter panjang seperti Michael Moore dalam film Sicko (2007) juga mengugunakan teknik jukstaposisi gambar dalam mengkonstruksi ceritanya, sedangkan Michael Winterbottom dan Mat Whitecross dalam film Road To Guantanamo (2006) justru menggunakan pendekatan fiksi (semi dokumenter) untuk menceritakan apa terjadi di sana ketika footage aslinya tidak tersedia.
C. PROPAGANDA YANG KUAT
Film dokumenter yang kuat dapat mempengaruhi kehidupan sosial dan politik suatu masyarakat. Dengan sangat halus, sutradara biasanya memiliki sudut pandang yang akhirnya menyatu dengan nilai propaganda terhadap permasalahan yang disampaikannya. Oleh karena itu penonton harus peka terhadap kemungkinan adanya bias itu.
Contoh itu ada dalam dokumenter klasik, Triumph of the Will (1935) karya Leni Reifenstahl yang saat itu menjadi ‘tangan kanan’ Adolf Hitler dalam urusan media film. Di sisi lain, Amy Berg nominasi piala Oscar dalam Deliver Us From Evil (2006), yang membeberkan pelecehan anak oleh rohaniwan Katolik di Los Angeles yang menyebabkan Keuskupan Agung Los Angeles menawarkan $ 660 juta kepada korban pelecehan untuk penyelesaian kasus tersebut baru-baru ini.
D. KONFLIK KEPENTINGAN (CONFLICT OF INTEREST)
Saat menonton film dokumenter dengan kemungkinan biasnya sudut pandang sutradara, maka salah satu kesadaran yang perlu diangkat adalah sumber pendanaan pembuatan film tersebut. Misalnya ketika perusahaan rokok membiayai film yang menunjukkan rokok sebagai gaya hidup ataupun ketika The Dixie Chicks merekrut Barbara Kopple menyutradari Shut Up & Sing (2006) yang menceritakan kembalinya mereka ke tengah panggung, di mana mereka mengkritisi Perang Irak yang dilancarkan George Walker Bush. Dikarenakan film ini menceritakan mereka yang masuk ke industri musik kembali, maka membuat informasi dan pesan film tentang Perang Irak seperti kurang dipercaya.
E. ETIKA DAN AKUNTABILITAS
Konflik kepentingan dan adanya kredibilitas yang dipertanyakan bukan satu-satunya standar yang dipertimbangkan dalam film dokumenter. Unsur lain yang dipertimbangkan oleh pembuat film adalah digunakannya subjek hidup dan merekamnya dengan akurasi tinggi. Dalam Tootie’s Last Suit (2006), Lisa Katzman mengikuti Mardi Gras ‘India’ untuk menentukan kostum siapa yang paling ‘bagus’. Film ini mengungkap persaingan antara Tootie dan putranya di mana kedua subjek tersebut merasa merana saat menonton, tapi sang sutradara tidak bisa disalahkan karena mengkhianati kepercayaan mereka.
F. EVOLUSI PEMBUATAN FILM DOKUMENTER
Pembuatan film dokumenter telah berkembang selama puluhan tahun. Film awal seperti Nanook of the North (1930) karya Robert Flaherty saat itu memerlukan peralatan canggih untuk membuat gambar menarik tetapi tidak sempurna. Teknologi digital saat ini memungkinkan para pembuat film – professional dan amatir – menggunakan cara gerilya (seperti hanya perekaman yang dapat mengungkapkan kebenaran tentang berbagai hal namun mereka sedang difilmkan tidak menyadarinya).
G. SEKARANG SUDAH LEBIH POPULER
Film dokumenter menjadi semakin populer di masyarakat karena teknologinya membuat mereka bisa menjangkau untuk masuk profesi tersebut. Penonton juga cenderung lebih percaya dan tertarik terhadap sumber informasi para pembuat film pemula tersebut, dibandingkan dengan film yang diproduksi oleh lembaga mainstream di mana informasinya sering dipotong–potong untuk kepentingan berita mereka daripada untuk kepentingan substansi ceritanya.
NB : Tulisan ini merupakan terjemahan bebas dari sebuah situs di internet yang saya sudah lupa, mohon maaf bagi yang situsnya diterjemahkan. Ini hanya untuk berbagi.
sumber: http://saungsinema.wordpress.com
2 days 6 hours ago
2 days 10 hours ago
2 days 22 hours ago
2 days 22 hours ago
2 days 22 hours ago
2 days 22 hours ago
4 days 4 hours ago
4 days 6 hours ago
5 days 10 hours ago
5 days 14 hours ago