Pelajar SMA Dominikus Wonosari Antusias Mengapresiasi Film Pendek “Sahabat Bumi”
FILMPELAJAR.COM, YOGYAKARTA – Tim program Festival Film Pelajar Jogja XIV – 2023 bersilaturahmi ke SMA Dominikus Wonosari, Gunungkidul, Selasa (21/11). Hal ini dilakukan melalui kegiatan Pemutaran Film Keliling yang diikuti oleh 65 siswa-siswi serta suster dan guru pendamping. Beberapa film pendek karya pelajar yang bertema “Sahabat Bumi” diputar dan kemudian didiskusikan bersama. Kegiatan dibuka oleh Kepala Sekolah Veronika Ari Wijayanti.
“Sekolah kami menyambut baik kegiatan ini. Pemutaran film bertema khusus Sahabat Bumi, diharapkan memantik perspektif siswa-siswi tentang lingkungan. Semoga kegiatan seperti ini bisa terus dikembangkan dan kerja sama yang baik juga berjalan lancar”, kata Kepala Sekolah dalam sambutannya.
Okta Pinanjaya, mewakili FFPJ menyampaikan, bahwa SMA Dominikus Wonosari dipilih sebagai mitra kegiatan ini dengan harapan siswa-siswi yang memiliki minat terhadap media atau seni, khususnya film, tertarik untuk lebih mengembangkan diri. Hal ini tidak semata tentang teknis, tetapi proses film yang dekat dengan kegiatan riset.
Selama pemutaran film berjalan, suasana terasa tenang. Sesekali terdengar tertawa kecil ketika adegan film ada yang lucu. Semua siswa tampak menonton film dengan antusias. Di akhir pemutaran, ketika lampu ruangan aula istimewa milik sekolah dinyalakan, terdengar bisik-bisik sesama siswa.
Tim FFPJ langsung menyambut siswa-siswi SMA Dominikus yang tampak memiliki energi lebih dalam mengapresiasi film. Hal ini dibuktikan dengan beberapa tanggapan dan pertanyaan yang dilontarkan langsung di forum.
“Saya menangkap ada simbol-simbol yang disiapkan oleh pembuat filmnya untuk memberikan pesan kepada penonton. Ada yang berkaitan dengan pertanian pangan, ada yang tentang korupsi, ada yang tentang sikap hormat terhadap guru. Ini hal menarik buat saya karena membuat penonton, paling tidak saya, tertantang untuk berpikir, apa maksud sebenarnya dari pembuatn film”, kata Niko, siswa kelas XII, menanggapi beberapa film yang ditayangkan.
Tanggapan kritis Niko langsung diapresiasi tim FFPJ. Bahwa apa yang disampaikannya merupakan hal penting dalam proses menganalisis sebuah film. Ini menunjukkan Niko memiliki kepekaan berkaitan dengan adegan yang menghadirkan simbol-simbol tertentu.
Widia, siswi kelas XI, juga menyampaikan pandangan kritisnya dalam forum diskusi yang santai.
“Pesan khusus yang terdapat di film yang diputar sepertinya memiliki kaitan dengan tema festival. Hal ini menunjukkan pembuat filmnya melakukan proses penyesuaian sejak awal. Ini menarik, tetapi juga memancing tanya. Apakah tema yang ditawarkan panitia festival justru membatasi minat peserta? Saya tertarik dengan film yang menunjukkan kasih sayang seorang Ibu kepada anaknya dan ditanggapi anak dengan caranya sendiri”, ucap Widia.
Menanggapi komentar Widia, tim FFPJ menyampaikan bahwa tema tiap tahun di FFPJ hampir selalu ada. Dikarenakan FFPJ merupakan festival tahunan, maka penentuan tema lebih ke arah membuka keragaman sudut pandang terhadap isu tertentu. Komentar dari Widia menjadi catatan panitia, yang boleh jadi ke depan usulan tema bisa disampaikan oleh peserta.
Diskusi menghangat. Beberapa siswa-siswi tampak saling berbisik. Niko tampak mengacungkan tangannya kembali dan berkomentar, bahwa pendapatnya tentang simbol di film memang terpancing oleh salah satu karya, yaitu Kidung Kukusan. Menurutnya, ini karya unik dan menarik dibahas lebih lanjut.
Diskusi berlanjut dengan pertanyaan yang disampaikan Thea, siswi kelas XI.
“Ketika merekam sebuah video untuk keperluan tertentu, saya pernah menghadapi perubahan cuaca mendadak. Terpaksa berhenti. Bagaimana menghadapinya?” tanya Thea.
Tim FFPJ menanggapi, bahwa dalam sebuah produksi film (atau produksi produk apapun), umumnya perlu persiapan sebaik mungkin. Ada antisipasi yang dipikirkan ketika terjadi kendala. Misalnya cuaca. Ini bisa berkaitan dengan kepentingan pengambilan gambar dan suara. Jika memang harus rekaman di luar ruangan, faktor cuaca penting diperhatikan. Berbeda jika di dalam ruangan. Jika memungkinkan, adegan di luar ruangan “diganti” atau “disesuaikan” dengan adegan di dalam ruangan. Tetapi harus diperhatikan naskah/skenarionya. Hal ini berhubungan dengan kesinambungan adegan keseluruhan.
Lontaran pertanyaan juga disampaikan Marchzya. Ia memiliki perhatian terhadap naskah.
“Naskah film dan novel itu sama atau berbeda ya? Kan ada film yang dibikin berdasarkan novel tertentu,” tanyanya.
Tim FFPJ menanggapi, bahwa naskah novel dan film umumnya berbeda. Novel ditulis untuk memanjakan imajinasi pembacanya. Sedangkan skenario film ditulis sebagai panduan tim produksi dan artistik dalam mengerjakan film. Selain itu, tidak semua adegan di novel bisa difilmkan. Terkadang, orang film menyesuaikan adegan yang terdapat di dalam novel. Penyesuaian ini berkaitan dengan kepentingan cerita itu sendiri agar lebih menarik dari sisi film, durasi, pertimbangan teknis, dan lainnya. Novel dan film, masing-masing memiliki karakter sendiri.
“Saya tadinya mengira akan menonton film berdurasi panjang. Ternyata di kegiatan ini nonton film pendek dan langsung ditayangkan beberapa. Tiap film memiliki pesan dan keunikannya sendiri. Saya membayangkan teman-teman di sekolah ntar bisa bikin juga dengan asyik. Iya kan, teman-teman?” komentar Angela, yang tampak menyemangati teman-teman satu ruangan dengan antusias.
Tim FFPJ menanggapi pernyataan Angela dengan antusias juga. Jika siswa-siswi SMA Dominikus ada yang berminat dengan kegiatan film, maka bisa belajar bersama dan tidak harus terburu-buru. Banyak sumber belajar yang bisa diakses. Apalagi di jaman internet seperti sekarang. Tinggal menjaga komitmen, ketekunan, kesungguhan.
Diskusi yang dilakukan setelah pemutaran film di SMA Dominikus Wonosari rasanya sulit dihentikan. Tetapi waktu yang tersedia terbatas. Kegiatan dimulai pukul 10.00 dan disepakati untuk diakhiri pukul 12.00 wib. Di penutup acara, guru pendamping Rosa Adista Septi Andini menyampaikan ke tim FFPJ agar memberikan informasi tentang agenda festival yang biasanya dipublikasikan.
Tim FFPJ menanggapi, bahwa FFPJ selama perjalannya hampir selalu dimulai di bulan Maret. Tepatnya tanggal 30 Maret, biasanya publikasi awal tentang tema diluncurkan melalui website (www.filmpelajar.com) dan akun media sosial FFPJ (Instagram @ffpjogja). Kemudian pengumuman program kompetisi nasional disebarkan mulai 2 Mei dan ditutup Oktober. Setelah itu FFPJ melakukan roadshow film screening ke berbagai sekolah/komunitas. Acara puncak festival dilaksanakan Desember, yang tahun ini ditetapkan tanggal 9-10 Desember. (*)
