LOADING

Type to search

Berita Featured Festival

Kabar dari Minang Film Festival, Sumatera Barat 2018

Redaksi Nov 11

 

Semakin maraknya karya-karya film di Sumatera Barat yang lahir dari para pelajar yang tergabung dalam komunitas-komunitas film, sekolah-sekolah menengah kejuruan dan kegiatan-kegiatan ekstra-kurikuler di sekolah, dll, menguatkan program studi Televisi dan Film ISI Padangpanjang untuk menggagas sebuah festival film pelajar dengan nama “Minang Film Festival” (MIFFEST). Festival yang telah diselenggarakan dua kali ini bertujuan sebagai media apresiasi dan edukasi untuk para pelajar Sumatera Barat. Institut Seni Indonesia Padangpanjang sebagai sebuah institusi pendidikan merasa memiliki kepedulian terlibat lebih jauh dalam usaha untuk terciptanya ekosistem perfilman yang sehat di Sumatera Barat.

 

“Melalui Minang Film Festival, usaha untuk menciptakan ekosistem perfilman yang sehat telah di mulai”, demikian tegas Choiru Pradhono, M.Sn., pembina festival, yang juga dosen di program studi Televisi dan Film ISI Padangpanjang.

 

Minang Film Festival (MIFFEST 2018) yang di selenggarakan tanggal 7-8 November 2018, di Gedung Hoeridjah Adam, ISI Padangpanjang bertujuan memberi penghargaan dan kepedulian yang besar untuk membangun semangat berkarya dan belajar bagi pelajar-pelajar di Sumatera Barat sebagai embrio untuk masa depan perfilman. Tema festival tahun ini menterjemahkan semangat generasi muda dalam berproses dan berkarya,  “jolong baniah ka boneh” adalah kalimat yang memiliki arti sebuah proses tahapan benih menjelang mekar dan berguna. Tema ini adalah gambaran sebuah proses awal untuk mengenal dan mencintai film dan budaya Minang. Festival ini juga diwujudkan sebagai bentuk kecintaan dan pelestarian budaya Indonesia khususnya budaya Minangkabau, karena saat ini perkembangan media film juga sudah dapat dipandang sebagai salah satu solusi untuk melestarikan  budaya bangsa.

 

Minang Film Festival mencoba memperkenalkan film-film yang diproduksi oleh pegiat film di kalangan pelajar Sumatera Barat kepada khalayak lebih luas, sekaligus mempertemukan pelajar-pelajar SLTA/sederajat untuk berkompetisi, saling berdiskusi dan berbagi pandangan maupun wawasan baru tentang dunia perfilman. Ada beberapa program dalam acara ini yang di persiapkan untuk dapat mewadahi para pelajar. Program pertama adalah Master Class, sebuah pembelajaran singkat untuk para pelajar dengan materi-materi dasar mengenai Skenario, Penyutradaraan dan Manajemen Produksi dengan pemateri para dosen dari ISI Padangpanjang. Pemateri Master Class adalah; Kelas Skenario oleh Adi Krisna, SS, M.Ed, Kelas Penyutradaraan oleh Maisaratun Najmi, S.Sn.,M.Sn, Kelas Manajemen Produksi oleh FX. Yatno Karyadi, S.Sn.,M.Sn. Pada program ini pelajar terlihat begitu antusias. Hampir seluruh kelas terisi penuh sebanyak 20 orang dan kelas pun berhasil menciptakan suasana yang santai tapi tetap serius sehingga para pelajar dapat aktif berdiskusi.

 

Program kedua adalah Diskusi Panel yang dilaksanakan dalam 2 sesi. Sesi pertama dilaksanakan pada tanggal 7 november 2018 dengan tema “Kreatifitas dalam Produksi Film Pendek” yang dihadiri 3 pemateri dari Sumatera Barat dan dari Jogjakarta. Panelis di sesi pertama ini adalah; Bobby Prasetyo (Sutradara Film Layar Lebar, Jogjakarta), Findo Bramata (Relair Cinema, Padang), Benny Sumarna (peoplelabs, Padang). Sesi kedua dilaksanakan pada tanggal 8 November 2018 dengan tema “Sinergi Festival dan Produksi film”. Panelis yang memberikan materi pada sesi 2 ini adalah; Tomy Widiyatno Taslim (Pendiri Festival Film Pelajar Jogja), Adi Osman (Andalas Film Festival), M. Zikra (UKFF UNP). Program ini mendapat respon yang positif dari para pelajar dan mahasiswa televisi dan film ISI Padangpanjang yang hadir. Diskusi yang terbangun dari pertayaan dan jawaban memeriahkan suasana diskusi yang kemudian berlanjut pada diskusi-diskusi tidak formal setelah acara selesai di luar ruangan.

 

Program ketiga adalah Seminar Nasional yang membicarakan Profesi Dunia Perfilman Indonesia. Program ini menghadirkan para pekerja film yang kini duduk di beberapa lembaga perfilman nasional. Pemateri pertama adalah Arturo GP, editor senior yang kini bertugas di Lembaga Sensor Film Indonesia. Pemateri kedua adalah Naswan Iskandar yang tergabung dalam Asosiasi Program Studi Film dan Televisi.  Program seminar ini mencoba mengarahkan perhatian para pelajar, selain pada olah kreativitas, juga melihat ke depan bahwa perfilman Indonesia merupakan salah satu lahan yang bisa dimasuki untuk bekerja.

 

Program keempat adalah pemutaran film dalam rangka penggalangan dana untuk membantu bencana alam di Palu, Sigi dan Dongala. Program ini bekerjasama antara MIFFEST 2018 dan Mahakarya Picture untuk memutar film “Surau dan Silek”. Tiket dijual senilai minimal sepuluh ribu rupiah sebagai donasi yang seluruhnya akan disumbangkan. Pada program pemutaran ini gedung pertunjukan Hoeridjah Adam dengan kapasitas kursi 400 tempat duduk terisi penuh dan dapat mengumpulkan donasi 4 juta rupiah. Program ini menjadi program khusus karena kepedulian MIFFEST, yang tidak saja sebagai sebuah acara perayaan kreativitas semata, tetapi juga mengajak para pelajar untuk lebih membuka hati dan peka pada sesama.

 

Program kelima adalah program utama yang dilaksanakan pada malam puncak tanggal 8 November 2018 di gedung Hoeridjah Adam. Malam penganugrahan 5 award yang akan diberikan untuk 5 film terpilih setelah melalui penjurian yang dilakukan oleh 3 juri yaitu; Bobby Prasetyo (Sutradara Film Layar Lebar, Jogjakarta), Tomy Widiyatno Taslim (Pendiri Festival Film Pelajar Jogja), dan Hery Sasongko, M.Sn. (Sekretaris Jurusan – Prodi Televisi dan Film, ISI Padangpanjang). Ke-5 award yang diberikan adalah sebagai berikut:

 

Siriah Gadang Award untuk film dengan ide, cerita dan penggarapan terbaik diberikan untuk film dengan judul “Nestapa Negriku” produksi SMAN 5 Bukittinggi,

 

Kaluak Paku Award untuk film dengan teknik sinematik terbaik diberikan pada film dengan judul “Mananti” produksi SMKN 1 Kota Solok,

 

Tapuak Manggih Award diberikan untuk film dengan naratif terbaik diberikan pada film berjudul “Mimpi” produksi SMA IT Cendikia Payakumbuh, 

 

Pucuak Rabuang Award untuk film yang memiliki pesan inspiratif diberikan pada film berjudul “Teman Pendidikan” Produksi SMAN 3 Bukittinggi, dan

 

Bungo Lado Award untuk film pilihan juri diberikan pada film yang berjudul “Kebaikan Alam di Penghujung Generasi Tua” Produksi SMAN  2 Bukittinggi.

 

Perayaan kreativitas untuk para pelajar di Sumatera Barat telah dimulai dan akan menjadi agenda kegiatan tahunan yang dilaksanakan oleh Prodi Televisi dan Film ISI Padangpanjang sebagai bentuk pengabdian, tidak hanya para dosen atau mahasiswanya saja tetapi segenap civitas akademika. Dukungan ISI Padangpanjang sebagai lembaga pendidikan pada masyarakat perfilman lokal mendapat sambutan hangat, hal ini dapat dilihat dari 24 karya film yang berhasil masuk dalam Minang Film Festival (MIFFEST). Empat karya diantaranya tidak memenuhi kriteria karena berasal dari luar wilayah Sumatera Barat, 1 film dari NTT, 2 film dari Jambi dan 1 film lagi dari Pekanbaru. Peserta yang berpartisipasi dalam setiap program yang dilaksanakan dalam 2 hari juga terlihat antusias. Sambutan positif dari para pelajar ini membuat  Minang Film Festival (MIFFEST) harus terus berbenah untuk meningkatkan kualitasnya setiap tahun, karena dalam setiap penyelenggaraanya akan selalu seiring dengan terbangunnya ekosistem perfilman yang sehat di Sumatera Barat, sehingga film dan insan perfilman di Sumatera Barat dapat bersaing dengan daerah-daerah lain.

 

Tags:

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *