Karya Pelajar SMKN 1 Klaten “Sedina” Tembus Nominasi FFI 2021
FILMPELAJAR.COM, KLATEN, Sebuah kejutan bagi Yosef Bergas Rosarianto, 18, ketika mendapatkan informasi jika film Sedina masuk nominasi di ajang Festival Film Indonesia (FFI) pada akhir pekan lalu. Dia tidak menyangka film yang dikerjakan saat masih duduk di bangku SMKN 1 Klaten bersama teman-temannya itu pada Oktober 2020 tembus di penghargaan film bergensi di Indonesia, demikian dilansir dari radarsolo.jawapos.com.
Pemuda yang kini berstatus mahasiswa semester 1 Jurusan Film dan TV di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta ini menjadi penata gambar dari film yang seluruhnya berbahasa Jawa itu. Sedangkan pemeran utama dari film itu adalah adik kandungnya sendiri Yohanes Nova Rosarianto, 12. Dia memerankan tokoh seorang pelajar bernama Wira.
Film Sedina menceritakan kehidupan sehari-hari seorang pelajar di tengah pandemi Covid-19 di Desa Jimbung, Kecamatan Kalikotes. Dia mendapatkan tugas dari sekolahnya untuk mengumpulkan dedaunan. Tetapi secara bersamaan dia mendapatkan tugas dari orang tuanya untuk menggembalakan dua ekor kambing.
Nah, saat itu tiba-tiba dua ekor kambingnya hilang sehingga dia sempat mencari ke mana-mana hingga takut untuk pulang ke rumah. Sampai di rumah dimarahi orang tuanya. Ternyata kambingnya yang hilang itu dirawat oleh tetangganya.
Dari film yang berdurasi 14 menit itu Yosef ingin memberikan pesan agar tidak terlena ketika diberikan tugas dan tetap fokus.
Film itu diproduksi selama tiga hari dengan melibatkan 20 siswa SMKN 1 Klaten. Termasuk Bertrand Rosarianto sebagai sutradara dan Rangga Fadhil sebagai produser. Bersama Yosef, memang ketiga pelajar itu sering memproduksi film dengan perannya secara bergantian. Tetapi kini mereka sudah lulus dengan menempuh jenjang pendidikan masing-masing.
“Saya tidak menyangka film Sedina yang belum pernah mendapatkan penghargaan tetapi lolos nominasi FFI. Apalagi empat film lainnya yang masuk dalam nominasi film cerita pendek terbaik di FFI ini sudah mendapatkan sederet penghargaan,” ujar Yosef saat ditemui di rumahnya di Desa Kalitengah, Kecamatan Wedi belum lama ini.
Awal mula lolosnya film Sedina ke FFI saat mengikuti Univesitas Multimedia Nusantara (UMN) Animation dan Film Festival (Ucifest). Masuk dalam salah satu nominasi dalam ajang tersebut tetapi belum mendapatkan penghargaan. Oleh pihak panitia malah didaftarkan pada ajang FFI 2021.
Pada awal bulan lalu dari ratusan film yang didaftarkan di FFI, film Sedina lolos 40 besar di kategori film cerita pendek terbaik. Hingga akhirnya pekan lalu diumumkan masuk dalam nominasi bersanding dengan empat film lainnya yang sudah digarap sineas profesional. Hal itu menjadi karya pertamanya yang tembus di ajang penghargaan bergensi di dunia perfilman Indonesia.
“Semua adegan dalam film ini diambil di Klaten. Lokasi pertama berada di Desa Jimbung dan Gergunung. Kami memang ingin menggali keindahan alam di Klaten untuk diangkat di dunia perfilman,” ucapnya.
Dia mengaku, untuk memproduksi film Sedina itu untuk beberapa peralatannya harus menyewa terutama kamera. Meski mereka juga mendapatkan pinjaman peralatan dari sekolah. Biaya produksi film itu sekitar Rp 2,5 juta. Bersumber dari hadiah lomba sebelumnya hingga iuran seluruh crew.
“Dalam produksi itu kami sempat mengalami kendala. Ternyata daya listrik rumah di Jimbung yang dijadikan lokasi syuting tidak kuat untuk menghidupkan lampu-lampu yang kami bawa. Akhirnya pindah lokasi syuting ke rumah lainnya di Gergunung,” ucapnya.
Meski film Sedina belum pernah mendapatkan penghargaan, tetapi karya film lainnya bersama teman-temannya saat duduk di SMKN 1 Klaten meraih sejumlah prestasi. Di antaranya lima penghargaan di Amikom Video Competition 2021, Tebas Award 2021 dan Festival Film Lampung 2021 hingga Australia Indonesia Short Film Competition 2021.
Sementara itu, sang pemeran utama, Yohanes yang saat proses pembuatan film masih duduk di bangku SD mengaku bangga film Sedina masuk dalam nominasi FFI 2021. Meski di salah satu adegannya harus mengulangi hingga 14 kali dan sempat menangis karena harus menahan lapar.
“Ini pertama kalinya saya ikut di produksi film. Paling susah ya saat menghafalkan naskah. Tapi saya senang bisa diarahkan oleh sutradara,” ucap Yohanes.
Yohanes berharap bisa terlibat kembali dalam produksi film dengan cerita dan peran tokoh lainnya. Mengingat dia menikmati prosesnya meski begitu melelahkan. (Angga Purenda/*/bun/Damianus Bram/r)
