LOADING

Type to search

Featured Wawasan

Cara Bikin Komunitas Film Asyik di Sekolah

Redaksi Feb 2

Proses pembuatan karya seni di kalangan pelajar, khususnya film pendek, penuh dengan dinamika. Kegiatan yang memantik kreativitas ini umumnya dikerjakan berkelompok. Seperti proses kerja pada umumnya yang dilaksanakan berkelompok, maka lazim terjadi perbedaan pendapat. Sejauh mengedepankan kepentingan bersama, maka ini adalah hal wajar. Agar proses berjalan relatif lancar, maka diperlukan persiapan yang cukup baik. Apa saja langkah-langkah?

Pertama, jika memiliki ide untuk membuat film pendek dan merasa perlu membuat kelompok/komunitas untuk berproses bersama, maka buatlah pengumuman. Sebarkan ke teman-teman di sekolah atau komunitas yang lebih luas. Isi pengumuman tentu saja mencari mitra/partner.

Kedua, setelah calon anggota kelompok/komunitas terkumpul, bikin pertemuan untuk membuat kesepakatan. Apa saja yang boleh dan tidak boleh dilakukan selama proses berjalan. Komitmen terhadap kesepakatan bersama ini perlu ditegaskan. Hal ini semata demi kebaikan bersama.

Ketiga, tentukan tujuan yang ingin dicapai. Jika kelompok/komunitas memiliki mimpi untuk bertahan lama, maka tujuan jangka panjang perlu dipikirkan. Kemudian tujuan jangka menengah dan pendek juga ditetapkan. Setiap tujuan yang ditentukan memiliki konsekwensi di baliknya agar tercapai.

Keempat, selain tujuan bersama, juga perlu didiskusikan tujuan pribadi masing-masing. Boleh jadi, tujuannya berbeda. Hal ini wajar. Setidaknya seluruh anggota komunitas memiliki tujuan yang jelas ketika memutuskan untuk berproses bersama dan terbuka untuk diskusi-negosiasi. Yang perlu disadari adalah tujuan bersama perlu diprioritaskan.

Kelima, bikin pemetaan sumber daya yang dimiliki kelompok/komunitas. Misalnya pengetahuan dan keterampilan sumber daya manusia, sumber daya teknologi/peralatan, sumber daya logistik/keuangan, dan lainnya. Hal ini menjadi pedoman awal untuk bekerja lebih lanjut. Misalnya, jika semuanya belum pernah punya pengalaman membuat film pendek, mungkin diperlukan mentor-fasilitator untuk menemani proses. Guru, kakak kelas, teman dari luar sekolah/komunitas yang berpengalaman bisa diajak diskusi. Atau, jika sudah ada yang punya pengalaman, maka pembagian tugas bisa dilakukan sesuai kapasita masing-masing.

Keenam, mengawali kerja dari sumber daya yang dimiliki. Hal ini diharapkan menjadikan proses berjalan lancar. Misalnya menggunakan kamera yang telah dimiliki salah satu anggota komunitas. Kamera bisa memanfaatkan dari perangkat handphone yang memiliki fasilitas perekam video (termasuk perekam suara). Demikian juga dengan perangkat editingnya. Selain itu juga pemain, lokasi dan perlengkapan artistik. Elemen-elemen ini juga diupayakan dari apa yang sudah dimiliki komunitas. Dengan menjalani proses seperti ini, diharapkan meminimalisir pengeluaran, khususnya sumber daya keuangan untuk penyewaan dan pembelian.

Ketujuh, fokus pada tujuan. Proses kerja berkelompok rentan konflik. Hal ini terjadi karena seluruh anggota komunitas memiliki ego, emosi dan lainnya. ini juga merupakan hal wajar. Tetapi jika tidak saling kontrol, maka tujuan bersama bisa terlupakan. Sebaiknya fokus kepada tujuan utama benar-benar diperhatikan. Yang juga tidak kalah penting untuk selalu diingat adalah kesepakatan bersama di awal pembentukan komunitas. Komitmen, respek, tanggung jawab, disiplin, dan terbuka dalam dialog konstruktif diharapkan membantu proses berjalan asyik.       

Tujuh proses di atas merupakan gambaran umum. Boleh jadi setiap kelompok/komunitas memiliki tahapan prosesnya masing-masing dan tidak sama. Pada prinsipnya, jika ingin membuat komunitas film di sekolah, sebaiknya memang harus menjadi tempat yang asyik untuk belajar bersama, berbagi dan tentu saja silaturahmi positif antar-anggotanya. (*)

Tags:

You Might also Like

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *