LOADING

Type to search

Apresiasi

Selamet Si Pengrajin Kayu: Film Pendek Karya SMKN 5 Bandar Lampung tentang Perjuangan, Gotong Royong, dan Kasih Sayang

Redaksi Feb 2

Selamet (17 tahun, diperankan oleh Muhammad Fahri Al Fath), seorang pelajar yang hidup berdua dengan Ibunya (diperankan oleh Pulmiati, S.Kom.). Suatu hari, ketika sedang beraktivitas di rumah kontrakan sederhana mereka, tiba-tiba listrik mati karena kehabisan kuota. Tak lama kemudian, seseorang datang dan memberitahu bahwa biaya sewa rumah harus segera dibayar karena sudah jatuh tempo. Jika tidak segera melunasinya maka mereka harus meninggalkan kontrakan.

Kisah di atas merupakan ringkasan cerita dari film pendek Selamet Si Pengrajin Kayu karya sutradara Azril Agustiawan dari SMK Negeri 5 Bandar Lampung. Penggarapan film dengan genre drama ini mendapatkan dukungan kru produksi dan artistik dari sekolah. Film berdurasi 3 menit 34 detik ini merupakan Nomine Kategori Fiksi (Saraswati Award) Program Kompetisi Nasional Festival Film Pelajar Jogja XVI 2025.

Menjadi seorang seperti Selamet tidak mudah. Karena suatu hal, ia harus hidup berdua bersama sang Ibu tercinta. Banyak keterbatasan yang dihadapi. Tetapi, film ini tidak mengeskploitasi kisah sedih. Selamet ditampilkan sebagai seorang anak yang berbakti kepada orang tua, tekun, dan tangguh. Sesekali ia juga terlihat rapuh. Film ini merupakan sketsa tentang perjuangan, pengorbanan, gotong royong dan kasih sayang.

Sebagai murid Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) yang belajar di Jurusan Kriya Kayu, Selamet memiliki kesempatan untuk mempraktikkan ilmunya secara langsung, baik di sekolah maupun di luar sekolah. Ia memanfaatkan bekal keterampilannya untuk membuat produk yang diminati masyarakat. Energinya tampak berlimpah demi kasih sayangnya kepada Ibu tercinta yang mengasuhnya selama ini.

Tidak ada anak yang bermimpi mendapatkan posisi seperti Selamet. Tetapi apa yang dialaminya juga dapat terjadi di orang lain dengan berbagai penyebab. Kondisinya boleh jadi tidak sama persis. Bagaimana perjuangannya dalam menjalani kehidupan juga beragam.

Film pendek Selamet Si Pengrajin Kayu memberikan pelajaran bahwa dalam kondisi terbatas harus disikapi dengan bijak. Mengeluh terus menerus tanpa melakukan sesuatu untuk mengubah keadaan adalah tindakan sia-sia. Selamet memilih untuk berjuang seoptimal mungkin dengan harapan memperoleh hasil sebaik-baiknya. Ia juga beruntung mendapatkan lingkaran belajar yang saling menguatkan.

Cerita dalam film cukup mudah dipahami dan menyentuh emosi. Adapun akting secara keseluruhan perlu dioptimalkan agar lebih natural. Ketika adegan dimaksudkan tidak menggunakan kekuatan dialog, maka tantangan akting juga berbeda. Kemudian kerja tim kamera perlu dioptimalkan agar sudut pengambilan gambar, tipe shot, komposisi, dan pemanfaatan cahaya lebih mendukung penceritaan. Tempo atau pengaturan durasi adegan dan kecepatan perpindahan antaradegan juga membutuhkan perhatian lebih rinci agar dramatisasi lebih optimal. Tata artistik dan atmosfer secara keseluruhan cukup mendukung cerita.

Selamet Si Pengrajin Kayu berpotensi diolah agar lebih menyentuh hati. Film ini Ketika ditonton terasa terburu-buru. Seandainya proses editing lebih cermat, maka ada kemungkinan film berjalan pas di mata, telinga, dan perasaan. Hal ini tidak menegasikan bahwa film pendek Selamet Si Pengrajin Kayu layak untuk diapresiasi dan menjadi sarana belajar bersama tentang arti penting perjuangan, pengorbanan, gotong royong, dan kasih sayang. (*)

Tags:

You Might also Like

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *