Tim Film SMA BOPKRI 1 Yogyakarta Mengangkat Isu KDRT dalam KULTUSAN

Menyajikan drama keluarga dengan latar kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), karya film pendek pelajar produksi SMA BOPKRI 1 Yogyakarta menjadi salah satu nomine Kategori Fiksi Program Kompetisi Nasional Festival Film Pelajar Jogja (FFPJ) XVI 2025. Karya berjudul KULTUSAN yang berdurasi 9 menit 59 detik ini bertutur lugas dan dekat dengan realitas sosial yang kerap terjadi di masyarakat.
Film dibuka dengan rangkaian adegan yang menegangkan. Suara tamparan, dialog bernada tinggi, serta gestur agresif membangun suasana rumah tampak kacau. Kekerasan yang dialami satu per satu anggota keluarga menjadi penanda awal runtuhnya ikatan rumah tangga tersebut. Seiring waktu berjalan, perceraian menjadi titik balik bagi Saka, Luna, Aira, dan Mama sebagai sebuah awal baru yang ditandai dengan kepindahan mereka ke rumah lain.
Dalam salah satu adegan sederhana saat menurunkan barang dari mobil, muncul kalimat, “Astaga, Saka kamu kan bisa. Namanya juga cowok. Heran.” Ucapan Aira secara halus menyudutkan Saka sebagai satu-satunya anak laki-laki dalam keluarga, yang sejak awal diposisikan sebagai sosok yang harus kuat dan dapat diandalkan. Dialog singkat ini menjadi pintu masuk penting untuk memahami kekerasan verbal yang diam-diam diwariskan dalam keluarga.
Dalam banyak rumah tangga, anak laki-laki sering kali tumbuh bukan karena kehendaknya sendiri, melainkan karena keadaan memaksanya dewasa lebih cepat. Ia ditempa oleh sunyi, dibebani ekspektasi, dan didorong kebutuhan keluarga untuk mengisi peran yang kosong yang ditinggalkan sosok ayah. Tanpa sempat bertanya apakah ia sanggup atau menginginkan peran tersebut, tanggung jawab perlahan melekat di pundaknya.
KULTUSAN menjadi menarik karena substansi cerita relevan dengan kehidupan masyarakat saat ini, khususnya yang dialami anak dan remaja. Survei Nasional Pengalaman Hidup Anak dan Remaja (SNPHAR) tahun 2024 menunjukkan bahwa satu dari dua anak di Indonesia, pernah mengalami setidaknya satu bentuk kekerasan (https://www.kemenpppa.go.id/siaran-pers/menteri-pppa-banyak-perempuan-dan-anak-korban-kekerasan-tidak-berani-melapor). Sering kali anak-remaja tidak menyadari dirinya sebagai korban.
Secara visual, film ini cukup solid dalam membangun atmosfer tiap adegan. Penggunaan available light pada scene luar ruangan serta tambahan pencahayaan di dalam ruang membantu menciptakan tampilan yang natural. Pendekatan sinematografi ini terasa selaras dengan cerita yang disampaikan secara lugas, dekat, dan tidak berlebihan. Teknik editing disusun runtut dan rapi, sementara penempatan backsound menjadi elemen penting yang menghidupkan emosi di tiap transisi adegan.
Sebagai film pendek fiksi, KULTUSAN masih memiliki ruang untuk dikembangkan dari sisi bentuk dan gaya. Secara khusus, pendalaman konflik dapat diolah lagi agar dampaknya terasa lebih tajam. Karya yang disutradarai Robertus Lintang dan Bumi Antar Amega ini telah berhasil menjadi pengingat penting, bahwa kekerasan dan tekanan emosional dalam keluarga bukanlah hal sepele. Rumah seharusnya menjadi ruang paling aman sebelum anak berproses menjadi apa pun di dunia luar. (Rahmi Yulianita/*)
