Belajar dari Film Mentari Sang Penakluk Gelombang Garapan SMKN 7 Ambon
Perjuangan dalam belajar harus dilakukan dengan penuh semangat untuk meraih cita-cita. Hal ini bisa dilakukan beriringan dengan hobi, yang juga mendukung proses non-akademik dalam mengejar impian. Dukungan keluarga yang penuh kasih sayang penting untuk terus dijaga agar proses yang dijalani saling menguatkan. Selain itu, keyakinan bahwa Tuhan Maha Baik juga akan menemani proses dengan penuh berkah.
Pernyataan di atas terasa hadir di dalam film pendek dokumenter Mentari Sang Penakluk Gelombang karya tim dari SMK Negeri 7 Ambon. Durasi film 9 menit 59 detik. Film berkisah tentang Mentari Tuhumury, seorang mahasiswi Universitas Kristen Indonesia Maluku, yang juga memiliki kegiatan sebagai nelayan di Desa Seri, Kecamatan Nusaniwe, Kota Ambon, Provinsi Maluku. Film ini meraih Dewantara Award dalam program kompetisi nasional Festival Film Pelajar Jogja XV 2024.
Film dibuka dengan aktivitas Mentari yang sedang berada di atas perahunya. Ia tampak sedang mengatur posisi perahu agar siap berlayar. Sementara aktivitas nelayan lainnya juga tampak sibuk. Beberapa anak kecil terlihat bermain-main di pantai. Seiring dengan adegan ini, suara narasi yang mengenalkan Mentari disampaikan Elisabeth Gasperz, sang ibu. Elisabeth yang muncul di frame menyampaikan, bahwa Mentari menyukai aktivitas melaut sejak kecil atau Taman Kanak-kanak karena mengikuti ayahnya yang seorang nelayan.
Narasi berlanjut tentang Mentari yang kesukaannya mencari ikan berlangsung sampai dewasa. Hasil dari melaut ini juga membantu perekonomian keluarga, khususnya untuk adik-adiknya yang masih kecil. Mentari adalah bagian dari enam orang bersaudara. Walaupun sering melaut, Mentari tak pernah melupakan kegiatan belajarnya. Ia membagi waktunya secara disiplin agar keduanya berjalan lancar. Kesibukan lainnya adalah membantu ibu di dapur untuk menyiapkan makanan sehari-hari.
Seiring dengan visual yang menampilkan kesibukan Mentari melakukan persiapan untuk melaut, aktivitas mencari ikan, dan juga kegiatan belajar di rumah dan kampus, narasi film terus bergulir. Disampaikan bahwa Mentari awalnya memiliki rasa takut karena menghadapi gelombang, angin, cuaca buruk dan bahkan pernah mesin perahunya mati. Tetapi orang tua menguatkan bahwa hal-hal yang dialami Mentari wajar terjadi. Semakin lama Mentari tambah terampil dalam melaut. Ia sering berangkat pukul 5 pagi dan pulang pukul 5 sore.
Cerita film ini menarik. Mentari dihadirkan sebagai subyek yang memiliki profil spesial, yaitu mahasiswi sekaligus nelayan. Penyutradaraan masih memungkinkan untuk dimaksimalkan. Scene pembuka, isi utama film dan penutup masih berpeluang diolah agar film tidak didominasi narasi. Ini membutuhkan dukungan kerja sinematografi agar mampu menghasilkan visual-visual yang detil. Lokasi dan peristiwa yang ada potensial menguatkan look/artistik film. Editing atau penyuntingan gambar bisa lebih dimaksimalkan lagi agar alur film secara keseluruhan rapi. Suara asli yang terdapat di dalam footage akan lebih baik dimunculkan dan diolah untuk menambah kekuatan atmosfer film. Musik pendukung cukup membantu mood film.
Film pendek dokumenter Mentari Sang Penakluk Gelombang adalah karya sekelompok pelajar tingkat menengah atas yang masih berpeluang untuk dieksplorasi lagi. Film ini tidak semata karya seni, tetapi juga sebuah pernyataan penting seperti yang tertulis di awal tulisan. Gelombang apapun yang ada di depan mata harus dihadapi dengan penuh keberanian, ketelitian, disiplin, kecerdasan, kreativitas, solidaritas dan semangat pantang menyerah. (*)
