Soemardjono: Filmmaker dan Organisator Tangguh
Soemardjono Demang Wiryokusumo adalah anak bungsu dari 4 orang bersaudara. Lahir di Yogyakarta, 31 Maret 1927 dan meninggal pada tanggal 28 Agustus 1998 di Jakarta. Sebagian besar hidupnya diabdikan untuk dunia film.
Setahun setelah lulus Sekolah Rakyat (SR) di Yogyakarta, ia mulai bekerja sebagai pembantu montir mobil. Tak kerasan, ia pindah menjadi penjaga pintu sandiwara keliling Mardi Wandowo. Dari sinilah asal-muasal jenjang karir yang ditapakinya kemudian. Muncul sebagai pemain, pembantu penata artistik, editor, sutradara, ia terlibat dalam kurang lebih 100 film. Diantaranya : Enam Jam di Yogya, Lewat Jam Malam, Tiga Dara, Pejuang, dan masih banyak lagi, termasuk film dokumenter dan iklan.
Mulanya ia gemar melukis, kemudian mengarang cerita-cerita ketoprak. Mendapat hadiah FFI tahun 1960 untuk editing terbaik dalam film Asmara Dara. Sepuluh tahun kemudian ia memenangkan hadiah FF International di Phnom Penh, Vietnam, untuk film dokumenter Ngaben, sebagai sutradara, editor, penulis komentar. Piala Akademi Sinematografi diterimanya lewat FFI tahun 1976 di Bandung, untuk editing terbaik II dalam film Laila Majnun. Soemardjono sempat duduk sebagai anggota MPR RI tahun 1977 mewakili Golkar.
Dinas ketentaraan ditinggalkannya pada tahun 1950. Ia pernah menjadi bagian berbagai pertempuran di Jawa Tengah. Antara lain serangan umum 1 Maret 1949. Pada tahun 1950 pula PERFINI yang dipimpin Usmar Ismail membuat film Long March di Yogyakarta. Soemardjono bergabung dan memulai karir sebagai pembantu umum. Kemudian dalam film Enam Jam di Jogja (1951) sebagai pembantu Penata Artistik merangkap pemain. Kariernya meningkat menjadi Kepala Bagian Editing PERFINI (1952-1959), Kepala Biro Studio PERFINI (1959-1966). Sejak 1966 bekerja sebagai Editor dan sutradara lepas.
Mengenang Usmar Ismail, tokoh yang sangat dikaguminya, ia ingat suatu hari. Ketika itu film sedang sepi, 1968. Ia datang menemui Usmar ke toko Serba Ada Sarinah. Membawa petis manis dari Yogya. Minta sepucuk surat rekomendasi. Agar petis dapat dijual di Sarinah. Usmar menulis surat, dengan mata berlinang. Usmar mengira nasib Soemardjono sudah sedemikian parahnya, hingga perlu berjualan petis. Padahal petis itu buatan kakak ipar Soemardjono di Yogya, yang berniat meluaskan usahanya ke Jakarta. Soemardjono sendiri saat itu sedang menangani film Tikungan Maut bersama Nya’ ’Abbas Akup.
Soemardjono juga memiliki pengalaman lengkap di dunia pendidikan. Ia memulainya sejak 1951 sebagai guru Taman Dewasa dan Sekolah Dagang di Klaten (1951). Ia kemudian mengajar pada Kursus Sinematografi kader PERFINI (1953), Kursus Sinematografi PERPEFI, PWI Seksi Film (1957), ATNI Jakarta (1956-1957), dosen di Akademi Film Nasional Universitas Jayabaya (1964-1968), Akademi Film & Theater Universitas Sawerigading Jakarta (1964-1965), dan sempat menjadi Dekan Akademi Sinematografi LPKJ (1972-1980)
Pada kursus maupun sekolah-sekolah film itu, mata pelajaran yang diajarkan Soemardjono tidak pernah berubah yakni editing. Soemardjono telah mengedit lebih dari 70 film, antara lain : “Krisis” (1953), “Harimau Tjampa” (1953), “Tamu Agung” (1955), “Tiga Dara” (1956), “Pejuang” (1960), “Toha Pahlawan Bandung Selatan” (1961) semuanya produksi PERFINI. “Atheis” (1974) produksi Matari Film, “Barung Kuning Mencari Jejak” (1976), produksi P.T. Madu Segara Film, “Bandot” (78), “Janur Kuning” (79), dll.
Sebuah ceramahnya sangat terkenal dan mendapat sambutan serta tanggapan luas di kalangan perfilman. Judulnya adalah “Pengantar pada Penyusunan Pola Dasar Pembinaan Perfilman Nasional”. Ceramah ini disampaikan dalam acara hari ulang tahun I “Pusat Perfilman Haji Usmar Ismail” (20 Oktober 1976). Pada tahun-tahun ini Soemardjono banyak mendapat perhatian karena gagasan mengenai “Wawasan Nusantara” dalam perfilman Nasional. Dengan gagasan itu, Soemardjono berharap agar pembuatan film tidak terpusat di Jakarta, tapi menyebar juga di daerah-daerah.
Pendidikan:
- SR Pamardi Putro di Yogyakarta (1941)
- SLP darurat/perjuangan di Yogyakarta (1946)
- SLA darurat/perjuangan di Yogyakarta (1948)
- Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI) Yogyakarta (1950-1953)
- Sanggar Kino Drama Atelier – Stiching Hiburan Mataram (1949-1950)
- Latihan kerja di studio film PINEWOOD, London, Inggris (1954)
- British Film Institute, Inggris (1954-1955)
Profesi sebelum ke dunia film:
- Anggota sandiwara keliling ‘Mardi Wandowo” (1943-1944)
- Anggota Pasukan Pembela Tanah Air – PETA (1944-1945)
- Anggota Badan Keamanan Rakyat – BKR (1945)
- Anggota Tentara Keamanan Rakyat (1945-1946)
- Sekretaris Kementrian Pertahanan Jawatan V (1946-1948)
- Perwira (Letnan II) Markas Besar Komando Jawa (1948-1950)
Karier di dunia pendidikan dan film:
- Guru Taman Dewasa Klaten (1950-1951)
- Kepala Bagian Editing NV Perfini (1952-1959)
- Dosen Akademi Teater Nasional Indonesia
- Dosen Akademi Film Nasional Universitas Jayabaya
- Dosen Akademi Film dan Teater Universitas Sawerigading
- Kepala Biro Studio NV Perfini Jakarta (1959-1967)
- Ketua Umum Karyawan dan Televisi atau KFT sejak didirikan (22 Maret 1964) sampai 1978
- Anggota Dewan Pembina Perfilman Nasional (1965)
- Ketua Umum Gabungan Studio Film Indonesia atau GASFI (1965-1972)
- Anggota Dewan Film Nasional (1969-1979)
- Dekan Akademi Sinematografi LPKJ (1972-1980)
- Anggota Dewan Kesenian Jakarta (1973-1979)
- Anggota Dewan Penyantun Siaran Radio Nasional (1975)
- Ketua Senat Lembaga Pendidikan Kesenian Jakarta (1975-1977)
- Sekjen MMPI (Majelis Musyawarah Perfilman Indonesia) – 1977
- Wakil Ketua Dewan Film Nasional (1979-1982)
Penghargaan:
- Beasiswa Colombo Plan untuk belajar film di British Film Institute (1954-1955)
- Pemenang FFI 1960 untuk Editing Terbaik dalam film Asmara Dara
- Pemenang FF International di Phnom Penh, Vietnam, untuk film dokumenter Ngaben
- Pemenang FFI 1976 Piala Akademi Sinematografi untuk editing terbaik dalam film Laila Majnun
- Mendapat Hadiah Djamaludin Malik dari Dewan Film Nasional tahun 1986
Filmografi:
Terimalah Laguku (1952), Kafedo (1953), Krisis (1953), Harimau Tjampa (1953), Lewat Djam Malam (1954), Tamu Agung (1955), Tiga Dara (1956),
Titian Serambut Dibelah Tudjuh (1959), Pedjoang (1960), Toha Pahlawan Bandung Selatan (1964), Anak Perawan Di Sarang Penjamun (1962), Anak-Anak Revolusi (1964), Si Buta Dari Gua Hantu (1970), The Big Village (1970), Atheis (1974), Janur Kuning (1979), Kartini (1982), Titian Serambut Dibelah Tudjuh (1982), dll.
Sumber:
– m2indonesia.com
– fftv.ikj.ac.id
– filmindonesia.or.id
– indonesiancinematheque.blogspot.co.id
– Apa Siapa Orang Film Indonesia 1926-1978. Disusun oleh Sinematek Indonesia. (Jakarta : Yayasan Artis Film dan Sinematek Indonesia, 1979)
– Apa & Siapa Sejumlah Orang Indonesia 1981-1982
