LOADING

Type to search

Apresiasi Berita

3 Film Maker Berbagi Pengalaman di FFPJ XIII – 2022

Redaksi Dec 12

FILMPELAJAR.COM, YOGYAKARTA – Penyelenggara Festival Film Pelajar Jogja selalu berusaha menghadirkan para praktisi film di acaranya untuk mewujudkan konsep berbagi yang sejak 2010 diusung. Tahun ini dikemas dalam acara sarasehan yang dilaksanakan Sabtu, 10 Desember 2022, pukul 19.00-20.30 wib. Sarasehan menghadirkan 3 film maker, yaitu sutradara dan penulis Bimo Suryojati, sutradara dan pengarah fotografi Yopi Kurniawan dan sutradara dan aktor Buyung Ispramadi.

Dalam paparan pembukanya, Bimo menyampaikan, yang paling penting dalam proses berkarya adalah paham tujuannya. Dalam masa remaja, jangan terpaku pada sudut pandang orang lain. Jadilah diri sendiri, agar karakteristik diri (masa remaja) teralirkan ke dalam film.

“Suatu karya harus bersifat personal, agar ada benah merah yang menyambungkan antara pembuat dengan karyanya,” katanya.

Sementara itu pemantik lainnya, Yopi, mengatakan bahwa film merupakan salah satu media ekspresi diri.

“Film maker mencurahkan apa yang ada di dadanya, perasaannya, dalam bentuk film,” ucap Yopi.

Yopi juga menambahkan bahwa hobi jika dijalani dengan baik bisa membentuk proses dan hasil tak terduga. Menurutnya, awalnya boleh jadi iseng dan ikut-ikutan. Tetapi seiring waktu bisa mencintai prosesnya dan menjadi lebih sungguh-sungguh. Bahkan menuju ke arah profesi.

Paparan dari Bimo dan Yopi menambah suasana sarasehan menghangat. Sarasehan yang dipandu oleh Sagaralange Wunga Paramahita semakin menambah partisipan FFPJ terlihat bersemangat.

Kesempatan selanjutnya paparan disampaikan Buyung. Ia menjelaskan pentingnya memperbanyak pengetahuan. Ini akan berdampak pada karya yang dibuat.

“Riset perlu dilakukan sungguh-sungguh dalam menyusun cerita maupun menyiapkan elemen visual yang sesuai dalam film,” tegasnya.

Diskusi setelah paparan narasumber berlangsung penuh semangat. Beberapa pertanyaan dilontarkan partisipan.

“Film yang kami bikin sepertinya kurang bermakna atau berdampak dan sejenisnya. Bagaimana caranya agar bisa mengarah ke situ ya?” tanya Guntur dari SMKN 2 Yogyakarta.

Para narasumber menanggapi pertanyaan Guntur secara bergantian. Menurut Bimo, tujuan awal dalam membuat film perlu ditegaskan. Semua orang tidak akan bisa diharapkan menyukai film yang sama. Bimo menegaskan, bahwa kegelisahan diri lebih utama dikedepankan dalam berproses membuat film dan apa yang ingin disampaikan ke penonton

Sementara itu Buyung mengatakan, bahwa seseorang harus meyakinkan dan percaya dengan dirinya sendiri. Semangat untuk berani menyatakan ‘pasti berani dan bisa’ harus dijaga. Tidak perlu takut salah. Setelah berproses, akan ada evaluasi dan refleksi.

Sedangkan Yopi menyampaikan, bahwa penonton itu sebenernya luas dan pengalaman mereka dalam menonton berbeda-beda. Cara melihat film berbeda-beda. Menurut Yopi, ia berusaha memberi pengalaman baru kepada penonton melalui filmnya.

Partisipan FFPJ dari SMAN 1 Garut Jawa Barat, Firman, mengajukan pertanyaan juga ke seluruh narasumber. Ia lebih fokus di permasalahan ‘mood’.

“Mood itu kan harus diciptakan ya. Bagiamana caranya? Soalnya yang awalnya hobi asyik, ketika berubah menjadi pekerjaan kok jadi berbeda,” tanya Firman.

Menurut Yopi, setiap orang mempunyai cara masing-masing untuk membangun mood-nya dalam berproses. Yopi menceritakan pengalaman pribadinya. Ia akan berjalan ke suatu tempat, contoh pasar, dan bertemua dengan banyak orang. Mood bisa tumbuh lagi di sini. Selain itu ia juga punya cara lainnya sesuai dengan situasi yang dihadapi. Seorang professional, menurut Yopi, bekerjanya tidak bisa tergantung mood saja.

Sedangkan Bimo menyampaikan, bahwa mood sebaiknya tidak menjadi kambing hitam.

“Belajarlah jangan menyalahkan mood dan jangan jadikan alasan. Temukan jati diri dan belajar untuk menemukan itu. Hobi tidak akan hilang karena selalu menemukan kesenangan dalam melakukannya. Jika kesenangan dalam menjalani hobi hilang berarti ada yang salah dan perlu memikirkan ulang sebenarnya maunya bagaimana,” kata Bimo.

Sarasehan terpaksa ditutup oleh moderator karena waktu sudah habis. Pada prinsipnya peserta diberikan pemahaman dan diajak untuk berpikir dan bersikap lebih kritis-kreatif dalam berproses. Melalui hal ini harapannya dalam berfilm peserta menjadi diri sendiri. (*)

Tags:

You Might also Like

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *