LOADING

Type to search

Apresiasi Berita Featured

FFPJ XIV Kumpulkan Pelajar Sahabat Bumi 2 Hari di Kaki Gunung Merapi Yogyakarta

Redaksi Dec 12

FILMPELAJAR.COM, SLEMAN – Sejumlah 50 pelajar ‘Sahabat Bumi’ yang terdiri dari berbagai SMA/SMK berkumpul di Desa Wisata Kembang Arum, Donokerto, Turi, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, 8-10 Desember 2023. Para pelajar yang ditemani fasilitator pendamping dari berbagai daerah ini merupakan partisipan Festival Film Pelajar Jogja XIV – 2023. Secara khusus, mereka diundang untuk menghadiri festival yang di tahun ke-14 ini diselenggarakan di desa kawasan kaki Gunung Merapi Yogyakarta.

Sebagian partisipan sudah berada di lokasi sejak Jumat (8/12). Kegiatan kecil yang sifatnya silaturahmi dilaksanakan secara alamiah sejak sore hari. Hari berikutnya, Sabtu (9/12), seluruh partisipan berkumpul dan mengikuti kegiatan yang telah disiapkan penyelenggara.

“Tidak semua yang menghadiri kegiatan ini adalah pembuat film pelajar. Sebagiannya adalah penyuka film. Selain itu juga ada yang menyukai seni dan media secara umum. Pada prinsipnya mereka memiliki tujuan yang berdekatan dengan penyelenggara, yaitu silaturahmi, belajar bersama, dan berbagi. Khusus untuk tahun ini, tema Sahabat Bumi yang mendekatkan seluruh partisipan untuk berproses bersama. Panitia mengundang khusus para nomine program kompetisi nasional dan jejaring FFPJ selama ini”, kata Okta, Direktur FFPJ.

Setelah sesi perkenalan dan pembagian kelompok yang meriah, kegiatan dimulai dengan lokakarya. Tim fasilitator dan narasumber menemani proses ini di ruang aula utama desa wisata yang berdekatan dengan camping ground. Dosen film dari Fakultas Seni Media Rekam Institut Seni Indonesia Yogyakarta, Pius Rino Pungkiawan, M.Sn., menjadi pemantik sekaligus mitra lokakarya. Sementara itu, di luar forum, hadir juga Dr. Ario Wibisono, M.Sn. (Dosen film ISBI Bandung), Drs. Alexandri Luthfi, MS. (Dosen FSMR ISI dan pengasuh Saung Banon Art), Subagjo Budisantoso, M.Sn. (Dosen film FFTV IKJ), dan Deddy Setyawan, M.Sn. (Dosen FSMR ISI dan mahasiswa doktoral film ISI Surakarta).

Lokakarya diselenggarakan berseri. Sesi pertama membahas tentang produksi seni film. Peserta diajak untuk melakukan simulasi. Diawali dengan menyusun ide pokok dan strategi kerja visual yang akan dilakukan. Tahap ini olah kreativitas, pembelajaran organisasi-kepemimpinan produksi dan keterampilan sosial komunikasi dijalani. Setiap kelompok mengerjakan proyeknya masing-masing dengan sungguh-sungguh. Dinamika terjadi alamiah. Tim fasilitator terus berupaya menemani proses lokakarya dengan sabar.

Pascalokakarya tahap pertama, seluruh partisipan melanjutkan kegiatan dengan menonton film-film nomine program kompetisi nasional FFPJ XIV – 2023. Kegiatan film screening ini juga dilakukan dalam beberapa sesi. Total film yang diapresiasi berjumlah 20 karya.

“Menonton karya-karya nomine adalah upaya saling belajar. Teman-teman bisa belajar menganalisis masing-masing film. Tidak hanya dari sisi teknis. Tetapi justru terpenting dalam kegiatan ini adalah mencoba menemukan film statement. Diskusi setelah pemutaran film juga akan menambah perspektif teman-teman”, terang Ghalif Putra Sadewa, kurator, yang juga dosen di Fakultas Seni Media Rekam ISI Yogyakarta.

Setelah menjalani kegiatan lokakarya, apresiasi film dan diskusi sejak pagi, seluruh partisipan festival mengikuti seremonial pembukaan. Rangkaian pertunjukan seni dihadirkan panitia mulai pukul 15:30 wib di aula utama desa wisata. Stand up comedy dari komika Sigit Haryoseno dan musikalisasi puisi Kampung Satwa semakin menghangatkan suasana. Pembukaan secara resmi dilakukan Rektor Institut Seni Indonesia Yogyakarta yang diwakili oleh Dekan Fakultas Seni Media Rekam ISI Yogyakarta, Dr. Edial Rusli, M.Sn.

“Bagilah pengalaman selama beberapa hari di Jogja ini ke teman-teman di sekolah dan daerah teman-teman. Kembangkan proses berfilm dengan gembira, baik dari sisi teknis maupun non-teknis. Fungsi program-program FFPJ ini memberi sangu atau bekal. Perkara dalam kompetisi ada yang menang dan kalah itu biasa saja. Tak usah merasa bangga atau sedih berlebihan. FFPJ adalah ruang belajar bersama, berbagi, silaturahmi. Semoga teman-teman pelajar dari berbagai sekolah dan daerah mendapatkan banyak manfaat dari kegiatan ini”, kata Edial Rusli dalam sambutannya.

Malam hari setelah mengikuti seremonial pembukaan, seluruh partisipan FFPJ bergabung dalam sarasehan. Dosen film Institut Kesenian Jakarta, Subagjo Budisantoso, menjadi pemantik. Selain itu sarasehan juga didinamisir oleh Ghalif Putra Sadewa. Suasana di sarasehan ini hangat. Pertanyaan dan jawaban silih berganti, baik disampaikan oleh peserta, narasumber maupun fasilitator. Benang merah penting dalam forum sarasehan ini adalah, bahwa proses berfilm perlu diawali dengan minat yang sungguh-sungguh. Pondasi ini akan menguatkan tahapan berikutnya, di mana kerja-kerja riset, seni, teknis, pengorganisasian dan kepemimpinan saling melengkapi.

“Sungguh-sungguhlah dalam riset. Baik untuk penguatan cerita maupun pilar film lainnya, seperti penyutradaraan, artistik, sinematografi, dan lainnya. Ini berlaku untuk teman-teman yang akan melanjutkan menekuni film, maupun bidang lainnya. Selalu sungguh-sungguh dan mengerjakan dengan senang”, kata Subagjo.

Setelah sarasehan, partisipan FFPJ berkumpul di lapangan terbuka di depan aula utama. Beberapa panitia telah menyiapkan api unggun dan tikar untuk tempat duduk. Ajang ini diberi nama Malam Ekspresi Api Unggun – Temu Komunitas Film Pelajar Indonesia.

Satu per satu setiap kelompok yang telah dibentuk sejak awal menyiapkan diri. Melingkar, berdiskusi, merancang sajian kreatif yang akan ditampilkan di depan seluruh partisipan festival. Tim fasilitator FFPJ menemani proses ini. Setiap kelompok didampingi seorang fasilitator pendamping. Puncaknya, seluruh kelompok tampil bergantian berdasarkan pantikan dari barang yang telah disiapkan panitia. Improvisasi dilakukan masing-masing kelompok. Keseruan malam ekspresi api unggun berlangsung sampai hampir tengah malam, yang kemudian ditutup dengan sesi bakar ubi dan jagung bersama.

Salah satu peserta, Ameera Sofie Nada, siswi kelas XI SMSR Yogyakarta, mengatakan bahwa ia senang dengan seluruh rangkaian kegiatan hari pertama. Hari kedua akan disambutnya dengan lebih semangat.

“Menurutku, acara-acara FFPJ cukup berguna bagi generasi zaman sekarang. Kita kan juga sudah tiga tahun lockdown. Ada kerenggangan sosial. Acara seperti ini menyatukan, mendekatkan, menambah teman. Saya memiliki beberapa kenalan baru di sini. Itu sebabnya saya suka acara yang seperti ini,” kata Ameera, seperti dilansir dari jolalijogja.com.

Minggu pagi (10/12) desa wisata Kembang Arum turun hujan. Kegiatan outbound yang direncanakan berjalan mulai pukul 06:00 wib batal dilaksanakan dan diganti dengan apresiasi seni film. Forum dimulai pukul 09:00 wib dijalankan oleh tim fasilitator. Perubahan cuaca dimanfaatkan partisipan FFPJ untuk diskusi dan membahas lebih rinci karya-karya nomine yang telah diputar. Selain itu juga pemikiran dan komentar yang disampaikan secara langsung oleh partisipan.

Forum yang juga merupakan lanjutan dari temu komunitas di malam harinya berjalan menarik. Pembahasan tentang teknis film bergantian dengan yang non-teknis. Selain itu, masukan dari peserta untuk penitia FFPJ juga menambah dinamika. Di antaranya adalah, tema festival ke depan bisa memperhatikan tentang pentingnya pendidikan, keberpihakan terhadap ketahanan pangan, masa depan pelajar dan sumber daya manusia secara umum di Indonesia, serta kreativitas tanpa batas.

Setelah istirahat siang, seluruh partisipan FFPJ menyiapkan diri mengikuti acara penganugerahan karya sekaligus penutupan. Acara terakhir ini dimeriahkan oleh pertunjukan seni musik akustik dan komedi. KDV & Friends tampil pertama dan dilanjutkan dengan meriah oleh Yuliono Singsoot yang mampu membuat audiens terhibur dengan alunan gitar dan narasinya yang jenaka. Hujan gerimis menemani rangkaian acara ini.

Pengumuman karya-karya terbaik yang mengikuti ajang kompetisi nasional FFPJ XIV – 2023 menjadi acara pamungkas. Pembawa acara menyampaikan pengumuman ini secara lugas dan disambut meriah oleh seluruh partisipan. Juri utama kompetisi adalah Subagjo Budisantoso, M.Sn. (IKJ), Drs. Alex Luthfi, MS. (ISI Jogja & Saung Banon Art), dan Deddy Setyawan, M.Sn. (ISI Jogja). Adapun para jawaranya adalah sebagai berikut:

Karya Terbaik 1 Fiksi: Aku Tinggal Lebih Lama Darimu, SMKN 3 Batu, Jawa TImur

Karya Terbaik 2 Fiksi: Sadar, SMKN 1 Karanggayam Kebumen, Jawa Tengah

Karya Terbaik 3 Fiksi: Sadar, SMKN 1 Mojokerto, Jawa Timur  

Karya Terbaik 1 Dokumenter: Haruskah Peduli? SMKN 1 Cimahi, Jawa Barat

Karya Terbaik 2 Dokumenter: Limbah Kehidupan, SMKN 1 Mojokerto, Jawa Timur

Karya Terbaik 3 Dokumenter: Tapak Uras, SMKN 3 Batu, Jawa TImur

Karya Terbaik 1 Eksperimental: Jerat Waktu, SMAN 9 Manado, Sulawesi Utara

Karya Terbaik 2 Eksperimental: Kidung Kukusan, SMA Kristen Tritunggal, Semarang, Jawa Tengah

Karya Terbaik 3 Eksperimental: Alam Bukan Musuh Kita, SMKN 1 Ngasem, Kediri, Jawa Timur

Dalam sambutan penutupan, Kepala Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta yang diwakili oleh Drs. Aryanto Hendro Suprantoro, menyampaikan agar seluruh peserta terus menjaga semangat dalam berkarya dan kembali ke Yogyakarta di tahun berikutnya untuk berpartisipasi dengan lebih baik lagi dari tahun ini.

“Jogja selalu asyik untuk dikunjungi. Selain sebagai kota pelajar, Jogja memiliki banyak keistimewaan yang layak diketahui dan dikunjungi oleh teman-teman pelajar dari berbagai daerah. Ambil segala sesuatu yang positif, bermanfaat dan inspiratif dari Jogja dan FFPJ. Semoga di tahun-tahun berikutnya FFPJ bisa dikelola lebih baik lagi, khususnya untuk melayani komunitas film pelajar Indonesia”, kata Hendro yang disambut tepuk tangan seluruh partisipan.

Total selama 3 hari 2 malam, kegiatan puncak Festival Film Pelajar Jogja XIV – 2023 diselenggarakan di Desa Wisata Kembang Arum, Donokerto, Turi, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Sebagian partisipan menyampaikan kesan dan harapan positifnya selama mengikuti hajatan sederhana ini. Salah satunya dari Niko.

“Bagi saya, mengikuti kegiatan FFPJ adalah pengalaman berkesan, di mana saya dapat mengenal lebih dalam mengenai film dan apa itu produksi film. Juga, FFPJ mengajarkan saya untuk tak menganggap remeh suatu karya. Contohnya karya film pendek, yang ternyata dalam proses produksinya sangat panjang dan butuh pengamatan yang sangat detail. Harapan saya untuk FFPJ ke depannya bisa memberi ilmu lebih lagi bagi mereka di luar sana yang menganggap bahwa film hanya sekedar hiburan. Film selalu memiliki suatu pesan di dalamnya,” kata Nikolaus Ardo Saputra, siswa kelas XII SMA Dominikus Wonosari, Gunungkidul, Yogyakarta. (*)

Tags:

You Might also Like

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *