LOADING

Type to search

Apresiasi Berita Featured

Hari-hari Menjalin Persahabatan di FFPJ XV – 2024

Redaksi Oct 10

Perjalanan Festival Film Pelajar Jogja (FFPJ) XV dimulai sejak publikasi awal diluncurkan, Februari 2024. Calon partisipan berproses di sekolah/komunitasnya masing-masing, khususnya yang mengikuti Program Kompetisi Nasional. Panitia berproses di Yogyakarta untuk menyambut calon partisipan yang merupakan komunitas film pelajar Indonesia. Semua berproses menuju hajatan utama festival dengan tema Tepa Salira.

Sinema Silaturahmi

Perhelatan yang digelar jelang acara puncak adalah Sinema Silaturahmi. Tim FFPJ XV melakukan perjalanan ke-8 sekolah tingkat SMA di 4 kabupaten dan 1 kota di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta. Sekolah yang merupakan mitra program adalah SMKN 7 Yogyakarta, SMAN 2 Wonosari Gunungkidul, SMAN 1 Jetis Bantul, SMK Diponegoro Depok Sleman, SMA Bumi Cendekia Yogyakarta, MA Al Ichsan Nanggulan Kulon Progo, SMK Muhammadiyah 1 Yogyakarta dan SMA Praxis Yogyakarta. Pemutaran film pendek pelajar terpilih dan dialog interaktif dilaksanakan 9 – 27 September. Partisipan kegiatan ini sekitar 400 pelajar terpilih dan berlangsung dinamis.

Salah satu partisipan, Zaki dari SMA Praxis, menanyakan syarat untuk menjadi pembuat film dan tempat studi film tingkat lanjut. Ia tampak berminat menekuni seni film. Tim FFPJ menyampaikan, bahwa syarat utama untuk menjadi pembuat film adalah membuat film. Selain itu juga perlu untuk sungguh-sungguh belajar dan tidak boleh mudah putus asa dalam berproses. Panitia menambahkan bahwa seperti proses di bidang lain, dunia film juga memiliki tantangannya sendiri. Mengenai sekolah film, panitia juga menyampaikan saat ini banyak sekolah/kampus film di Indonesia, salah satunya ada di Institut Seni Indonesia Yogyakarta.

Selain dialog interaktif dengan siswa-siswi sekolah, Sinema Silaturahmi juga memfasilitasi obrolan dengan para guru pendamping.

“Sekolah senang sekali dengan kegiatan Sinema Silaturahmi. Banyak manfaatnya untuk siswa-siswi. Selain itu, kami para guru juga ikut belajar bersama tentang seni film. Kebetulan sekolah kami memiliki jurusan khusus yang mempelajari tentang film,” kata Adik Kristien, Guru SMKN 7 Yogyakarta.

Kepala Sekolah SMAN 1 Jetis Bantul, Sumarno, yang juga merupakan seorang seniman pedalangan, menyampaikan bahwa kegiatan Sinema Silaturahmi penting untuk terus dilakukan. Nilai-nilai yang dibawa dalam kegiatan ini perlu untuk dirawat. Tema Tepa Salira yang perwujudan ilustrasinya adalah para punokawan di dunia wayang menarik.

“Masing-masing karakter dalam tokoh punokawan memiliki kaitan dengan tema festival. Selain itu, film-film karya pelajar yang diputar juga menarik didiskusikan bareng. Para pelajar akan lebih mengenal seni film, juga belajar tentang ragam karakter tokoh yang ada di dalam cerita,” terang Sumarno.

Sinema Silaturahmi berlangsung total selama 5 hari di 8 sekolah. Panitia FFPJ menjadikan program ini sarana untuk menjalin hubungan yang lebih intensif dengan para pelajar, guru, dan sekolah. Setiap tahun tim FFPJ terus berkeliling mencari dan menemukan sekolah/lembaga yang bersedia menjadi mitra program ini.

“Program Sinema Silaturahmi ini salah satu yang terus diupayakan ada di FFPJ. Ini bagian dari menjalin persahabatan sekaligus belajar bersama. Sampai saat ini tim FFPJ masih fokus di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta karena keterbatasan sumber daya. Harapannya ke depan semoga bisa menjangkau sekolah/komunitas yang lebih luas,” kata Ghalif Putra, supervisor panitia FFPJ XV 2024, yang juga merupakan dosen di Fakultas Seni Media Rekam Institut Seni Indonesia Yogyakarta.

Kompetisi Nasional

Beriringan dengan Sinema Silaturahmi, proses penjurian final Program Kompetisi Nasional juga berlangsung. Juri utama tahun ini adalah Latief Rakhman Hakim, Deddy Setyawan dan Alexandri Luthfi. Ketiganya merupakan akademisi dan praktisi dari Institut Seni Indonesia Yogyakarta. Karya yang masuk tahap penjurian final ini sebelumnya dikurasi oleh Budi Bas, seorang seniman/praktisi media kreatif.

“Beberapa karya yang dibikin oleh teman-teman pelajar tingkat SMA/SMK/MA ada yang menarik. Ada yang menghadirkan cerita keseharian dan dekat dengan hubungan pribadi. Ada juga yang memotret seseorang yang inspiratif walau sang tokoh memiliki banyak kendala. Selain itu ada yang menyajikan karya cukup kritis tentang sebuah peristiwa, dan masih banyak lagi. Karya-karya ini memungkinkan dikembangkan lagi ke depan, khususnya jika pembuatnya mau menekuni seni film,” ungkap Latief mewakili juri utama, yang juga Ketua Program Studi Film di Fakultas Seni Media Rekam Institut Seni Indonesia Yogyakarta.

Acara Puncak

Setelah 5 hari menjalankan program Sinema Silaturahmi, tim FFPJ XV menyiapkan acara puncak 4-6 Oktober 2024. Jika program sebelumnya berkolaborasi dengan 8 sekolah, maka di acara puncak berkolaborasi dengan kampus UNU Yogyakarta, ISI Yogyakarta dan Pokdarwis Srikeminut Imogiri Bantul. Selain lembaga-lembaga ini seluruh rangkaian acara FFPJ XV 2024 juga bekerja sama dengan berbagai pihak, khususnya Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta.

Apresiasi seni mengawali acara puncak di UNU Yogyakarta. Musik akustik dihadirkan oleh UKM Musik UNU Yogyakarta. Setelahnya dilanjutkan dengan pemutaran film terpilih karya Senoaji Julius. Ia merupakan sutradara film profesional dan pengelola production house Hompimpa Sinema Nusantara. Pascapemutaran disambung dengan bedah karya. Selain Senoaji, acara ini juga menghadirkan Heri Nugroho, seorang film art director yang juga dosen film di Institut Seni Indonesia Yogyakarta.

“Menyutradarai film anak memerlukan strategi/trik khusus. Yang utama adalah memahami anak yang memiliki dunianya sendiri sesuai usianya. Jadi saat berproses di persiapan sampai shooting, jika hal ini benar-benar dipahami dan dijalankan, anak akan merasa nyaman dan aman. Nah, shooting biasanya menjadi relatif lancar,” kata Senoaji.

Menanggapi pertanyaan peserta acara yang beragam, Senoaji dan Heri Nugroho menjawabnya dengan pengalaman-pengalaman yang pernah dijalani. Heri juga menyampaikan, bahwa dalam merancang dan mengeksekusi artistik film, khususnya untuk film anak, tidak bisa disamakan dengan produksi film yang personel di depan serta di belakang layar adalah orang dewasa. Aspek keamanan dari sisi material artistik harus diperhatikan. Selain itu juga durasi shooting.

“Tepa salira harus diterapkan dalam proses ini. Seperi yang dikatakan Senoaji, anak memiliki dunianya sendiri sesuai usianya. Maka, tim produksi memang harus memahami hal ini. Tidak sekadar asal shooting. Ini sebuah tantangan agar pembuat film tidak saja menggunakan rasa untuk karya filmnya, tetapi juga tepa salira terhadap seluruh sumber daya di balik layar,” tambah Heri.

Pascakegiatan apresiasi seni, pemutaran film dan bedah karya di tanggal 4 Oktober, pembukaan festival diselenggarakan Sabtu, 5 Oktober, di kampus UNU Yogyakarta. Pembukaan dihadiri partisipan festival dan tamu undangan. Secara khusus, seremoni pembukaan diresmikan oleh Dian Laksmi Pratiwi, Kepala Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta.

“FFPJ yang sudah berusia 15 tahun perlu untuk dilanjutkan dengan penuh semangat. Ini akan menjadi bagian dari kebanggaan Daerah Istimewa Yogyakarta, yang dinamika ekosistem perfilmannya berkembang pesat. Selain itu, tema-tema yang dipilih di FFPJ memiliki kekuatan nilai yang penting diperkenalkan terus menerus kepada generasi muda, khususnya pelajar. Tidak hanya di Yogyakarta, tetapi juga secara nasional. Seperti tema Tepa Salira di tahun ini. Apalagi juga pernah ada tema Urip Iku Urub, Hamemayu Hayuning Bawana, dan tadi juga disampaikan panitia tahun depan temanya Gugur Gunung. Semoga panitia istiqomah dan partisipan FFPJ juga semakin bersemangat dalam berfestival,” kata Dian Laksmi dalam sambutannya.

Sebelumnya, Suhadi Cholil, Wakil Rektor UNU Yogyakarta juga memberikan sambutan untuk seluruh partisipan festival yang hadir. Ia menggarisbawahi, bahwa kolaborasi UNU Yogyakarta dengan FFPJ akan terus dijaga untuk lebih memaksimalkan pelayanan kepada komunitas film pelajar Indonesia.

Sedangkan Tomy Widiyatno Taslim mewakili panitia menyampaikan, bahwa FFPJ mengucapkan terima kasih kepada seluruh stakeholder yang masih mendukung sampai saat ini, khususnya komunitas film pelajar Indonesia. Disampaikan juga FFPJ XVI 2025 akan mengusung tema Gugur Gunung.

Apresiasi Seni Film

Acara apresiasi seni film diisi dengan pemutaran film terpilih karya pelajar yang menjadi nomine program kompetisi nasional FFPJ XV 2024. Kegiatan ini dilaksanakan beberapa kali di acara puncak, baik di kampus UNU Yogyakarta maupun Desa Wisata Srikeminut Imogiri Bantul.

“Melalui acara apresiasi seni film ini, partisipan diharapkan bisa melihat karya teman-temannya. Kemudian juga bisa langsung berdiskusi dengan pembuatnya yang hadir di acara puncak, yang tahun ini hampir semuanya hadir. Panitia mendorong terjadinya dialog kritis, argumentatif dan menjauhkan dari semangat cari-cari kejelekan karya. Semua masih dalam proses belajar. Dan memang di FFPJ ini adalah ajang belajar bersama. Harapannya ya saling menguatkan obrolannya,” kata Rahmi Yulianita, Direktur Eksekutif FFPJ XV.

Salah satu yang disampaikan oleh partisipan di forum, Josie Elaine Wahid dari SMA Bumi Cendekia, adalah tentang film eksperimental. Menurutnya, tipe film ini belum jelas.

“Bagaimana konsep film eksperimental? Bagaimana juga mengapresiasinya?” tanya Elaine.

Narasumber forum yang merupakan dosen film ISI Yogyakarta, Pius Rino dan Ghalif Putra menanggapi, bahwa film eksperimental berbeda dengan kelaziman yang ada di fiksi dan dokumenter.

“Umumnya, film yang banyak beredar dan sering ditonton publik adalah masuk kategori naratif. Sedangkan eksperimental bisa diperhatikan dengan pendekatan non-naratif,” kata Pius.

Kelaziman film eksperimental menekankan ekspresi personal paling dalam pembuatnya. Karya-karyanya hampir semuanya berwujud abstrak. Contohnya seperti karya Hans Richter, Walter Ruttman, Luis Bunuel, Salvador Dali, dll. Karya-karya mereka jarang ditonton publik & cenderung tidak bercerita. Jika mengapresiasi film eksperimental, maka tidak ada salahnya menggunakan parameter umum: apakah film yang ditonton mengganggu pikiran atau perasaan penonton?

Penutupan dan Awarding

Selain apresiasi seni film yang penuh dengan diskusi menarik, acara puncak juga diisi dengan kegiatan outbound/jalan santai keliling area desa wisata Srikeminut Imogiri. Acara ini membawa partisipan festival agar lebih mengenal lingkungan di sekitar perkemahan. Selain itu pertunjukan seni improvisasi yang disajikan oleh masing-masing kelompok partisipan mengiringi prosesi malam api unggun. Suasana penuh persahabatan mewarnai acara ini.

Acara yang ditunggu-tunggu adalah awarding. Sebelum acara dimulai, partisipan disuguhi pertunjukan seni komunitas Gejog Lesung yang diisi oleh warga Srikeminut Imogiri Bantul. Penampilan yang ritmis memancing penonton ikut bergoyang. Pertunjukan lainnya adalah musik keroncong oleh Orkes Florence yang mampu membius penonton.

Awarding alias pemberian penghargaan kepada karya-karya terpilih oleh juri utama program kompetisi nasional menjadi acara pamungkas. Juri utama yang terdiri dari Latief Rakhman Hakim, Alex Luthfi dan Deddy Setyawan telah memilih dan menetapkan karya terbaik. Ketiga juri merupakan dosen film di kampus Fakultas Seni Media Rekam ISI Yogyakarta.

Sebelum pengumuman karya terbaik, panitia memberikan pesan ke seluruh partisipan agar selama berproses bareng di FFPJ XV persabahatan yang telah terjalin senantiasa dirawat. Selain itu juga sifat tepa salira juga dijaga dalam keseharian. Harapannya setelah kembali ke rumahnya masing-masing kegiatan festival tidak berkesan sesaat saja, tapi bisa memberikan manfaat jangka panjang. Setelah selesai acara puncak di desa wisata Srikeminut, seluruh partisipan kembali ke kampus UNU Yogyakarta menggunakan bis dan kemudian dijemput oleh pihak sekolah/keluarga masing-masing.

Adapun karya terpilih di program kompetisi nasional FFPJ XV 2024 adalah sebagai berikut:

Karya Fiksi:

I; Prestasi Berdarah, SMA KRISTEN EBEN HAEZAR, Manado, Sulawesi Utara

II; Perbedaan Menyatukan Semua, SMAN 3 SINGKAWANG, Kalimantan Barat

III; Urai, SMK PRESTASI PRIMA, DKI Jakarta

IV; Kekancan, SMK PGRI 3 MALANG, Jawa Timur

V; Pepali, SMKN 7 YOGYAKARTA, Daerah Istimewa Yogyakarta

Karya Dokumenter

I; Mentari Sang Penakluk Gelombang, SMKN 7 AMBON, Maluku

II; Bendera Sholawat, SMK AL FATAH BANJARNEGARA, JawaTengah

III; Nyusuh, SMAN 60, DKI Jakarta

Karya Eksperimental

Atirath, SMKN 1 WONOSARI, GUNUNGKIDUL, Daerah Istimewa Yogyakarta

Tags:

You Might also Like

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *