LOADING

Type to search

Apresiasi Berita Featured

Belajar Memahami Persoalan Diri dan Bersama dalam Temu Komunitas Film Pelajar FFPJ

Redaksi Dec 12

FILMPELAJAR.COM, YOGYAKARTA – Kegiatan Temu Komunitas Film Pelajar Indonesia dalam rangka Festival Film Pelajar Jogja XIII dilaksanakan Sabtu, 10 Desember 2022, pukul 21.00-24.00 wib, di halaman Pondok Pemuda Ambarbinangun. Seluruh peserta yang hadir dari berbagai daerah mengikuti acara ini. Jumlahnya sekira 75 orang dan semuanya merupakan undangan. Fasilitator temu komunitas adalah Ubaidillah Fatawi, M.Pd., pegiat pendidikan di Sanggar Anak Alam sekaligus aktivis Gusdurian Jogja.

Alur temu komunitas menurut Ubaidillah dimulai oleh dengan menyanyikan lagu secara bersamaan ‘Belajar Sama-sama’. Kemudian dilanjutkan dengan saling berkenalan dalam posisi acak.

“Melalui hal ini diharapkan peserta tidak berkumpul per sekolah saja. Jadi bisa saling kenal dan suasana menjadi lebih cair, kata Ubed, panggilan akrab Ubaidillah.

Proses selanjutnya adalah melakukan pengungkapan persoalan menggunakan kertas ‘meta plan’. Proses ini berlangsung khidmad dan dilanjutkan pembuatan kelompok kecil secara acak, mendiskusikan metaplan dan mengerucutkan kesimpulan menjadi karya.

“Setelah karya per kelompok jadi, dilanjutkan bedah karya. Di sini ada pembelajaran analisis tentang apa yang terdapat di balik sebuah karya. Masing-masing kelompok melalui proses ini dengan diawali diskusi. Kemudian saat bedah karya ini juga ada interaksi antarkelompok,” jelas Ubed.

Kelompok 5 menceritakan suka duka dan keluh kesah dalam membuat film. Menurut mereka, kendala terberat adalah cuaca. Selain itu, komunikasi di kelompok ini juga semakin cair karena walau beda sekolah dan daerah tetapi punya tujuan sama mengikuti FFPJ, yaitu belajar bersama dan silaturahmi. Gambar yang dibikin oleh kelompok ini adalah gunung dan simbol grafis yang menandakan proses ketergesaan dalam berkarya.


Kelompok 2 menyajikan gambar penguin karena suasana saat kegiatan temu komunitas hawanya cukup dingin. Gambar penguin yang tidak sempurna menandakan ketidaksempurnaan dalam proses membuat karya. Salah satu kekurangannya adalah kru yang minim dan komunikasi yang tidak maksimal. Ditampilkan juga gambar es batu yang meleleh. Menurut kelompok 2 ini menggambarkan waktu yang terus berputar

Kelompok 1 menghadirkan gambar yang di dalamnya terdapat rumah, sawah, sungai, pelangi, awan, masker, ikan, dan jalan. Mereka menyampaikan bajwa dunia ini banyak komponen, luas. Jadi jangan stuck di satu hal saja karena masih banyak kesempatan dan peluang lainnya untuk dikerjakan. Simbol rumah diasumsikan, bahwa film adalah sebuah ‘rumah’. Sedangkan pelangi merupakan simbol masa depan yang penuh warna. Jadi tidak boleh mudah patah hanya karena satu hal yang menghambat.

Kelompok 4 mempresentasikan gambar roket. Mereka menyampaikan, bahwa kendalanya ada di waktu. Teamwork yang solid dan berdedikasi dibutuhkan sekali. Jika salah satu saja tidak bisa menghargai waktu maka akan muncul persoalan. Selain itu ada juga simbol gigi taring yang diartikan sebagai tantangan. Juga, bagi kelompok ini dalam membuat film itu seperti semut bekerja. Harus gotong royong.

Sedangkan kelompok 3 menyampaikan kendala bikin film adalah tentang gagasan yang macet. Konsep atau ide sulit dipikirkan. Selain itu juga tantangan untuk menentukan makna film. Ada harapan film bermakna bagi penonton.

Rangkaian proses kegiatan temu komunitas tampak diikuti partisipan secara santai tetapi tetap sungguh-sungguh. Debat konsep dan tertawa ngakak sesekali terlihat dan terdengar. Fasilitator yang dibantu beberapa asisten dengan sabar menemani proses temu komunitas di halaman Pondok Pemuda Ambarbinangun yang cuacanya cerah.

“Temu komunitas ini diharapkan menguatkan masing-masing peserta. Setiap orang memiliki permasalahan-persoalan dan harus dihadapi dengan cerdas serta bijak. Belum lagi persoalan kelompok. Ini sebuah tantangan untuk teman-teman partisipan. Partisipan yang merasa masih sendiri tidak boleh lagi ada. Kebersamaan dijaga, walau tetap menghargai pilihan dan sikap masing-masing pribadi,” kata Ubed.

Acara temu komunitas kemudian diakhiri dengan api unggun dan ngobrol santai. Fasilitator, asisten fasilitator, volunteer dan peserta berkumpul kembali dalam suasana yang rileks dan penuh kekeluargaan. Acara ini diharapkan meninggalkan bekas yang baik untuk seluruh partisipan FFPJ. (*)

Tags:

You Might also Like

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *