Apresiasi Seni Film Pilihan FFPJ di SMKN 1 (SMKI) Kasihan, Bantul
FILMPELAJAR.COM, BANTUL – SMKN 1 Kasihan, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, giliran mendapatkan kesempatan untuk mengapresiasi film-film pilihan tim Festival Film Pelajar Jogja XIV – 2023. Sebanyak 35 pelajar perwakilan Jurusan Teater dari kelas X sampai XII mengikuti acara dengan antusias. Kegiatan ini berlangsung secara khusus di gedung Jurusan Teater, Sekolah Menengah Karawitan Indonesia (SMKI), yang merupakan bagian dari SMKN 1 Kasihan, Selasa (14/11).
Dalam sambutannya, Ignatius Karyono selaku Ketua Jurusan Teater menyampaikan, bahwa SMKI memiliki beberapa fokus studi seni, salah satunya pemeranan. Ia menyambut baik kegiatan apresiasi seni film FFPJ.
“Seni peran tak hanya digunakan di atas panggung, tetapi juga layar lebar atau film. Seni teater dan film sangat dekat sekali hubungannya”, kata Karyono.
Sementara itu, Direktur FFPJ, Okta Pinanjaya, menyampaikan ucapan terima kasih karena FFPJ diterima di SMKI. Okta berharap kerja sama bisa terus berjalan dengan baik dan pelajar-pelajar SMKI terus melahirkan karya-karya yang berkualitas sesuai kompetensinya masing-masing.
Beberapa film pendek pilihan diapresiasi bersama di gedung Jurusan Teater. Sekolah kejuruan yang fokusnya di seni pertunjukan ini memiliki banyak gedung dan ruang khusus untuk latihan, studio, laboratorium, dan pementasan. Seluruhnya dimanfaatkan untuk mendukung kegiatan belajar mengajar di lingkungan sekolah yang asri.
Javier, salah satu siswa kelas XII melontarkan pertanyaan setelah seluruh film selesai diputar.
“Apakah film-film yang diputar merupakan pemenang atau juara dari kategori tertentu di kompetisi nasional FFPJ?” tanya Javier.
Tim FFPJ menanggapi, bahwa film-film yang diputar merupakan pilihan panitia dan bukan merupakan pemenang atau juara di kategori tertentu. Film-film dipilih untuk mengenalkan beberapa jenis atau kecenderungan yang dibuat peserta FFPJ. Dengan menontonnya, tim FFPJ berharap apresian mengenal dan mengetahui, bahwa karya-karya peserta festival beragam.
Rubiati Budiasih, salah satu guru di SMKI menambahkan, bahwa karya-karya yang diputar bisa menambah wawasan tentang tema, cerita dan aspek sinematik. Siswa-siswi yang menonton perlu memperhatikan tiap detil agar menemukan keunggulan maupun kekurangan. Hal ini akan menambah kekayaan sudut pandang terhadap seni film, yang memiliki beberapa elemen seni pendukung di dalamnya.
“Yang ikut FFPJ merupakan undangan atau bagaimana ya?” tanya Jingga, siswi kelas XI.
Tim FFPJ menanggapi, bahwa FFPJ selalu mempublikasikan programnya secara terbuka di website filmpelajar.com maupun akun media sosialnya, yaitu Instagram @ffpjogja atau Facebook Festival Film Pelajar Jogja. Sejak awal tahun, paling tidak di bulan Maret, publikasi awal festival biasanya sudah dilakukan oleh panitia. Selama 14 tahun pelaksanaannya, acara puncak diselenggarakan di bulan Desember.
“FFPJ bikin casting tidak? Atau gimana ya caranya untuk mendapatkan informasi casting?” tanya Devan, siswa kelas X.
FFPJ yang diwakili Fawad, Okta dan Tomy menyampaikan, bahwa panitia fokus sebagai penyelenggara festival. Jadi tidak melakukan casting yang berkaitan dengan pembuatan film. Jika siswa-siswi atau alumni SMKI ingin mengetahui informasi casting, atau kompetensinya diketahui para pencari bakat profesional, sebaiknya menjaga konsistensi dalam berlatih dan berkarya. Selain itu juga rajin menggunakan media, paling tidak akun media sosial milik pribadi, untuk mempublikasikan keahliannya. Konsistensi dan komitmen akan terlihat di serangkaian publikasi personal. Potensi untuk ditemukan pencari bakat profesional semakin besar jika siswa-siswi juga rajin mencoba membangun komunikasi dengan baik.
“Apakah untuk membuat film yang berkualitas memerlukan biaya besar?” tanya Fabel, siswa kelas XII.
Tim FFPJ menanggapi, bahwa film berkualitas yang dimaksud perlu dicermati lagi dengan sungguh-sungguh. Tujuan membuat film untuk apa. Film dirancang untuk dipublikasikan ke mana. Target penonton seperti apa. Beberapa pertanyaan ini setidaknya akan menjadi pemikiran calon pembuat film sebelum berproses. Ada film yang ingin ditayangkan di bioskop. Ada juga untuk televisi. Pun, ada yang fokus di kanal/platform internet tertentu. Setiap tujuan ini memiliki konsekwensi masing-masing dan perlu dipelajari dengan sungguh-sungguh. Jadi, biaya besar atau kecil sangat relatif dan berkaitan dengan sumber daya teknologi, manusia dan sekitarnya, yang akan digunakan.
Kegiatan apresiasi seni film yang dimulai pukul 10.00 berjalan dinamis sampai dengan penutupan 12.00 yang diakhiri dengan foto bersama. Dalam kesempatan penutupan, Ketua Jurusan Teater Karyono, menegaskan kepada seluruh siswa-siswi yang mengikuti kegiatan agar tetap menjaga disiplin dan komitmen dalam berproses. Dunia seni teater dan film memiliki relasi yang sangat dekat dan akan terus saling mengisi dengan kompetensi masing-masing. Kesungguhan dalam berproses akan menjadikan calon pekerja seni di dalamnya menemukan hasil maksimal. (*)
