Film Pendek Pelajar “Sahabat Bumi” Diapresiasi di SMA Bopkri 2 Yogyakarta
FILMPELAJAR.COM, YOGYAKARTA – Pemutaran Film Keliling dalam rangka Festival Film Pelajar Jogja XIV – 2023 kembali dihadirkan di SMA Bopkri 2 Yogyakarta, Jumat (17/11). Siswa-siswi yang mengikuti kegiatan ini sebanyak 25 orang. Mereka terdiri dari perwakilan berbagai jurusan di kelas X sampai dengan XII.
Dalam persiapan kegiatan, Yanuarius Yala selaku Wakil Kepala Sekolah Bidang Hubungan Masyarakat (Waka Humas) menyampaikan, bahwa sekolah menyambut baik kegiatan ini. Ke depan diharapkan kerja sama yang memberi manfaat bagi siswa-siswi bisa dilakukan kembali.
Sebelum pemutaran film dimulai, guru pendamping kegiatan, Hiswara Jati, juga menyampaikan kepada siswa-siswi agar mengikuti kegiatan degan sungguh-sungguh. Hal ini diharapkan menambah wawasan dan pengalaman menonton film karya pelajar dari berbagai sekolah di Indonesia.
“Teman-teman yang sudah memiliki minat dan hobi audio-visual bisa menambah referensi. Selain itu juga memanfaatkan kesempatan diskusi pascapemutaran film untuk menggali hal-hal yang perlu diketahui”, kata Jati
Tim panitia yang diwakili Fawad, menyampaikan ucapan terima kasih karena FFPJ diterima di SMA Bopkri 2 Yogyakarta. FFPJ memilih sekolah ini karena memiliki visi misi yang bagus, yaitu sebagai Sekolah Multikultural Indonesia. Harapannya jika siswa-siswi SMA Bopkri 2 memiliki minat berkarya di bidang film, maka nilai-nilai multikultur bisa mewarnai substansi ceritanya.
Pemutaran film dilaksanakan di ruang khusus multimedia di area perpustakaan sekolah. Beberapa film pendek dengan tema “Sahabat Bumi” ditayangkan dan diapresiasi siswa-siswi SMA Bopkri 2 dengan antusias. Di ruangan yang sejuk ini seluruh film ditayangankan dan setiap akhir film disambut dengan tepuk tangan meriah.
Setelah seluruh film selesai diputar, sesi diskusi atau ngobrol antara siswa-siswi dengan tim panitia FFPJ dan guru pendamping dilaksanakan.
“Mari teman-teman, jika memiliki pertanyaan, komentar, kritik dan lainnya disampaikan”, kata guru pendamping, Jati, yang membuka diskusi.
Siswa kelas XI, Bryan, mengangkat tangannya dan bertanya ke tim FFPJ.
“Kriteria film yang diterima FFPJ itu bagaimana ya? Trus, mengenai tema maksudnya gimana”, tanya Bryan.
Tim FFPJ menanggapi, bahwa film-film yang diterima FFPJ adalah dari pelajar SMA/SMK/MA dan yang setara se-Indonesia. Ini karena program kompetisi FFPJ tingkat nasional. Sedangkan film-film yang diputar di sini merupakan pilihan panitia dan bukan merupakan pemenang atau juara di kategori tertentu. Film-film dipilih untuk mengenalkan beberapa jenis dibuat peserta. Sedangkan mengenai tema, hampir setiap tahun FFPJ memiliki tema tertentu. Film-film yang dibuat peserta diharapkan merespon tema yang telah ditentukan oleh panitia FFPJ.
Stefani, siswi kelas XI, memiliki ketertarikan dengan aktivitas tim penyelenggara FFPJ.
“Awalnya terbentuk FFPJ itu gimana ya?” tanyanya.
Tim FFPJ menanggapi, bahwa FFPJ awalnya akan diselenggarakan beberapa tahun sebelum 2010. Tepatnya sekira tahun 2003/2004, yaitu ketika sempat muncul kabar tentang kegiatan film di sekolah-sekolah tingkat menengah. Tetapi tim yang terdiri dari beberapa orang baru merasa siap di tahun 2010. Kemudian disepakati untuk membuat festival yang sederhana agar tidak terlalu memiliki ketergantungan dengan pihak manapun. Semangatnya menjadi sebuah festival mandiri. Dan, berjalan dengan tetap sederhana saja sampai tahun ke-14 saat ini. Tim FFPJ terus berusaha menjalankan festival dengan gembira. Yang selalu diusung juga semangat belajar bersama, berbagi dan silaturahmi.
Swastika yang akrab dipanggil Ola, siswi kelas XI, menanyakan tentang cara mengikuti FFPJ. Pertanyaan sejenis juga disampaikan oleh Steven, kelas X.
“Apakah untuk mengikuti FFPJ harus mendapatkan undangan dari panitia? Atau bagaimana ya?” tanyanya.
Tim FFPJ menanggapi, bahwa FFPJ boleh diikuti oleh seluruh pelajar Indonesia tingkat SMA/SMK/MA dan yang setara. Sebagian sekolah terkadang meminta undangan khusus karena berkaitan dengan administrasi lembaga. Selain itu, teman-teman yang tidak belajar di sekolah formal, juga boleh ikut. Batasannya usia, yaitu antara 14-18 tahun. Sejauh ini panitia menganggap usia ini setara SMA, dengan bukti surat/berkas sejenis yang disampaikan oleh pembina/penanggungjawab kelompok/komunitasnya. Panitia selalu mempublikasikan programnya secara terbuka di website filmpelajar.com maupun akun media sosialnya, yaitu Instagram @ffpjogja atau Facebook Festival Film Pelajar Jogja. Sejak awal tahun, paling tidak di bulan Maret, publikasi awal festival biasanya sudah dilakukan oleh panitia.
Siswi kelas XI lainnya, Angela, memiliki ketertarikan dengan cara membuat tim film di sekolah.
“Kalau mau bikin tim film di sekolah caranya bagaimana ya?” tanyanya.
Tim FFPJ yang diwakili Tomy menyampaikan, bahwa untuk membuat tim film di sekolah perlu dimulai dengan menemukan teman yang “satu visi”. Intinya, memiliki semangat yang dekat untuk berproses bersama dengan segala konsekwensinya. Tim awal bisa terdiri dari 2-3 orang saja. Bahkan, bisa memulai sendiri dulu, misalnya dengan fokus menulis naskah/skenario/cerita. Tentukan juga sejak awal mau membuat film pendek fiksi, dokumenter atau eksperimental. Cari referensinya masing-masing di internet (misalnya YouTube). Setelah skenario “jadi”, diskusikan dengan tim kecil tentang “kualitas”nya dan kemungkinan untuk mewujudkannya dalam sebuah film pendek. Jangan lupa, sebaiknya tim terdiri dari orang-orang yang cukup rendah hati (tidak terlalu egois), sabar, disiplin, tanggung jawab, toleran, dan memiliki komitmen untuk berproses dengan senang hati. Harapannya, jika proses dijalani dengan senang/gembira, maka akan berjalan dengan asyik. Banyak pelajaran yang akan didapatkan ketika berproses belajar membuat film pendek di sekolah.
Kegiatan apresiasi seni film di SMA Bopkri 2 Yogyakarta dimulai pukul 09.30 dan diakhiri pukul 11.30 wib. Setelah acara ngobrol-ngobrol yang cukup hangat, kegiatan diakhiri dengan foto bersama. Sebelum foto bersama, guru pendamping, Hiswara Jati, mengingatkan siswa-siswi agar mengambil hal-hal baik dari kegiatan ini. Selain itu, juga diharapkan ke depan siswa-siswi di SMA Bopkri 2 yang berminat dengan dunia seni film, bisa lebih memaksimalkan prosesnya agar mendapatkan manfaat yang positif. (*)
