LOADING

Type to search

Wawasan

Membuat Film Pendek: Efisiensi Narasi

Redaksi Feb 2

Para ahli film memiliki pemikiran beragam tentang bagaimana membuat film pendek yang menarik. Beberapa di antaranya yang lazim diperhatikan adalah kekuatan penceritaan (storytelling), efisiensi durasi, dan dampak emosional ke penonton. Durasi pendek harus menjadi perhatian sungguh-sungguh pembuatnya karena memerlukan kreativitas tersendiri dalam meracik cerita dan gaya sinematiknya.

Film pendek adalah film yang berdurasi pendek. Film pendek bukanlah film panjang yang dipotong menjadi pendek. Film pendek merupakan sebuah karya mandiri yang harus memikat perhatian penonton dalam waktu singkat. Dari sisi durasi, di dunia internasional ada yang membuat ketentuan maksimal 60 menit. Tetapi ada juga yang menetapkan film pendek maksimal 50 menit, 40 menit, 30 menit, 20 menit, 10 menit, bahkan 1 menit.

Film pendek adalah media untuk mencari bentuk alternatif dalam bercerita. Keterbatasan durasi membutuhkan kreativitas dalam mengolah ide cerita sampai dengan eksekusi teknisnya. Salah satu yang sering ditekankan para ahli adalah tentang efisiensi narasi. Karakter, aksi, lokasi, ketegangan, konflik, keterkejutan, dan lainnya perlu diolah dengan optimal.

Film pendek memiliki struktur yang berbeda secara fundamental dari film panjang. Hal ini sering disebut sebagai the ‘a plot’ rule atau efisiensi narasi. Ketentuannya sebagai berikut:

  • Fokus tunggal

Film pendek harus langsung ke inti cerita tanpa banyak eksplorasi karakter atau subplot.

  • Struktur a-plot 

Film pendek yang efektif biasanya hanya berfokus pada satu tema utama atau satu konflik utama (a-plot).

  • Ekonomi penceritaan

Setiap bingkai (frame) dan shot harus memiliki tujuan yang jelas karena keterbatasan waktu menuntut pembuat film untuk ekonomis dalam bercerita. 

Selain struktur, karakteristik “deep simplicity” juga penting dalam film pendek. Hal ini berhubungan dengan prinsip ‘less is more’ sebagai berikut:

  • Simplicity vs Depth

Cerita yang sederhana dalam film pendek justru sering kali terasa lebih mendalam karena memberikan ruang bagi penonton untuk mengeksplorasi makna di dalamnya.

  • Karakter yang terfokus

Karakter dalam film pendek tidak perlu didefinisikan secara bertahap; identitasnya harus jelas sejak awal melalui aksi atau pilihan adegan yang dibuat. 

Ketika cerita sudah dianggap lengkap, penulis sebaiknya meminta tanggapan beberapa pihak. Seseorang yang dianggap ahli/guru perlu didengarkan komentarnya. Tidak kalah penting adalah pendapat orang awam yang mewakili calon penonton. Pendapat dari beberapa pihak ini akan memberikan masukan ke penulis apakah karyanya cukup berhasil menggugah emosi atau belum. Tetapi jika karya tidak dimaksudkan untuk menggugah atau mengganggu emosi pembaca/penonton maka ini merupakan hal berbeda.

Aspek bentuk/cerita dalam film pendek juga dapat ditambah agar lebih menarik dengan eksplorasi gaya. Menurut François Truffaut, film pendek dapat menjadi fondasi untuk membangun gaya visual seorang sutradara (auteur). Eksperimen dapat dilakukan dengan teknik kamera, tata artistik, editing atau penyuntingan, tata suara dan lainnya. Truffaut adalah sutradara, penulis skenario, produser, dan kritikus film berpengaruh dari Prancis (1932–1984).

Seperti yang tertulis di awal artikel ini, para ahli film memiliki pemikiran beragam tentang bagaimana membuat film pendek yang menarik. Sebagian ‘resep’ di atas adalah pemantik kecil. Boleh jadi ada cara lainnya yang lebih efisien sekaligus efektif, serta berpotensi menghasilkan karya yang optimal. (*)

Tags:

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *