LOADING

Type to search

Berita Featured Festival

FFPJ 2017: Belajar Saling Memahami Proses

Redaksi Dec 12

Yogyakarta (17/12)-Festival Film Pelajar Jogja ke-8 merupakan ajang apresiasi, literasi, dan ekspresi pelajar dari berbagai penjuru Nusantara. Ratusan peserta hadir dalam kegiatan FFPJ ke-8 pada tanggal 16-17 Desember 2017 yang bertempat di Pondok Pemuda Ambarbinangun, Yogyakarta. Para peserta mengikuti hajatan pendidikan dan kebudayaan ini dengan antusias. Hal tersebut menjadikan festival sederhana ini menjadi penuh makna. Acara pembukaan di hari pelaksanaan festival diisi dengan sambutan singkat perwakilan panitia, pertunjukan seni, dan puncaknya adalah peresmian oleh perwakilan partisipan yang hadir. Sambutan disampaikan oleh Tomy W. Taslim selaku Penanggungjawab FFPJ dan Marsudi, S. Kar., M. Hum., selaku Dekan Fakultas Seni Media Rekam Institut Seni Indonesia (FSMR ISI) Yogyakarta. Pembukaan ini juga dihadiri oleh perwakilan beberapa mitra festival. Para tamu undangan, guru pendamping dan peserta pelajar juga turut berpartisipasi untuk menyukseskan acara ini. 

 

Tomy W. Taslim dalam sambutannya menyampaikan, “Pada penyelenggaraan FFPJ kali ini kita bersama-sama belajar untuk saling memahami proses”. Penegasan ini sebagai hasil dari refleksi FFPJ setelah berproses selama delapan tahun. Selain itu, berangkat dari semangat untuk belajar bersama, berbagi dan silaturahmi, FFPJ selalu berusaha untuk mengapresiasi beragam ide, tema, dan cerita yang dieksplorasi oleh para pelajar. Setiap karya adalah istimewa. Setiap proses adalah pencapaian. Kemudian, Dekan Fakultas Seni Media Rekam ISI Yogyakarta juga mengapresiasi kegiatan FFPJ ini, “Harapannya dengan adanya FFPJ, suatu saat nanti akan memunculkan alumni yang berproses di bidang film secara serius dengan prestasi yang baik di tataran nasional”. Selain itu, Ia juga menambahkan bahwa konsistensi FFPJ dalam membawa nilai-nilai yang baik nantinya dapat turut membawa pengaruh baik terhadap dunia perfilman di Indonesia. Melalui FFPJ kreativitas dari para pelajar juga diasah, serta melatih untuk lebih peka terhadap hal-hal di sekitarnya, yang kemudian dapat disampaikan salah satunya melalui media film.

 

Peserta FFPJ ke-8 berasal dari berbagai tingkatan pelajar, salah satunya adalah Nana yang berasal dari SD PIUS Cilacap, Jawa Tengah. Nana mengungkapkan, bahwa ia merasa senang dapat mengikuti kegiatan FFPJ. Meskipun Nana masih duduk di bangku Sekolah Dasar, ia sangat menyukai kegiatan membuat film. Hal serupa juga disampaikan oleh salah satu peserta lainnya, yaitu Rani dari SMP Lentera Harapan, Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur “Kami sangat senang dengan adanya acara ini, karena dapat mewakilkan semangat anak muda dari seluruh Indonesia untuk berkreasi dalam dunia perfilman”. Meskipun mereka berasal dari berbagai daerah tetapi antusiasme mereka untuk hadir dalam kegiatan FFPJ ke-8 sangat tinggi. Hal ini terbukti dari peserta yang hadir dan berasal dari Padang, Lampung, Kalimantan Barat, Bali, Jawa Timur (Sidoarjo, Malang, dll), Jawa Tengah (Klaten, Cilacap, Pati, Pekalongan, dll), Jawa Barat (Cimahi, Sukabumi, Bandung, Bekasi, Depok, dll), Jakarta, Banten, Yogyakarta sebagai tuan rumah. Seluruh peserta mengikuti seluruh rangkaian kegiatan festival selama dua hari penuh.

 

Sekilas Seminar Nasional, Forum Pendidik, Kelas Pendidikan Kritis, Kelas Seni dan Kreativitas, Pemutaran Film, Api Ekspresi dan Temu Komunitas

 

Program-program literasi, diskusi dan silaturahmi disiapkan untuk seluruh peserta. Di antaranya adalah program seminar nasional yang mengajak para pelajar untuk berpikir, bersikap, dan berperilaku yang baik dan tepat dalam pusaran berbagai peristiwa di era milenial ini. Narasumber seminar ini adalah Muzayin Nazardin, S.Sos., MA., yang merupakan dosen Ilmu Komunikasi Universitas Islam Indonesia, Dyna Herlina, M.Sc., dosen Ilmu Komunikasi Universitas Negeri Yogyakarta, dan Susilo Adinegoro dari Yayasan Anak Akar Indonesia. Seminar Nasional ini membahas tentang bagaimana posisi film, gerakan literasi, dan tantangan yang dihadapi oleh remaja di era milenial. FFPJ berharap melalui seminar ini para pelajar-remaja dapat memahami bagaimana tantangan-tantangan yang mereka hadapi, dan dapat menjadi pihak yang cerdas bermedia, dan memanfaatkan media untuk kegiatan positif.

 

Setelah seminar nasional, kemudian dilanjutkan dengan Forum Pendidik yang dibersamai oleh Muzayin Nazardin, S.Sos., MA sebagai fasilitator. Diskusi terbuka di forum ini mengemukakan sebuah pernyataan, bahwa kalangan pendidik dari berbagai latar belakang lazimnya memahami, bahwa perubahan besar sedang terjadi. Para pembelajar di berbagai level formal berlomba menguasai teknologi informasi dan komunikasi sebagai tambahan-pendukung kompetensi utama mereka. Hal ini beriringan dengan tema forum, yaitu “Praksis Komunikasi Digital, Pendidik dan Pendidikan Kritis”. Meskipun teknologi digital membawa beberapa dampak negatif, tetapi juga memberikan manfaat dan menyediakan kesempatan berharga apabila digunakan secara baik. Muyazin yang merupakan alumni Department of Semiotics, Faculty of Philosophy, University of Tartu Estonia ini juga menambahkan, bahwa untuk dapat memaksimalkan potensi teknologi digital dan menghindari sisi negatif maka hal terpenting adalah memanfatkan teknologi; menjadi lebih produktif, mengubah perilaku dari hanya user menjadi content creator. Forum juga menegaskan pentingnya menanamkan kembali moralitas dan gerakan menumbuhkan nalar kritis di lingkungan terdekat.

 

Sebagai bentuk literasi terhadap pelajar-remaja, FFPJ juga mengadakan Kelas Pendidikan Kritis yang mengangkat topik “Ada Apa dengan Seksualitas?” yang dibersamai oleh Gama Triono, Direktur Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) Daerah Istimewa Yogyakarta. Kegiatan ini merupakan sebuah forum diskusi partisipatif yang menambah wawasan serta memperkaya pengetahuan para partisipan FFPJ. Isu seksualitas, remaja, dan sekitarnya, didiskusikan secara hangat dan santai. Kelas diawali dengan permainan “Hoax atau Fakta” mengenai isu-isu yang sering dibahas dalam persoalan gender dan seksualitas. Diskriminasi gender menjadi permasalahan yang sering dihadapi berkaitan dengan gender dan seksualitas.  ‘’Membahas mengenai seksualitas, seharusnya para remaja harus belajar dan paham mengenai Genderbread Person’’, ujar Gama. Genderbread Person yang diantaranya  terdiri dari Sexual Orientation Gender Identitiy and Exspression, Bodies dan Sexual Characteristics. Gama menjelaskan dimensi seksualitas dipengaruhi pula secara biologis, psikologis, sosial, budaya, dan individu. Masing-masing aspek tentunya memiliki dimensi yang berbeda-bda karena pengalaman yang juga berbeda-beda. Melalui diskusi ini, FFPJ berusaha untuk menegaskan kenapa permasalahan ini penting untuk dipahami secara cerdas dan kritis.

 

Api Ekspresi dan Temu Komunitas juga mewarnai hari pertama FFPJ kali ini. Sebuah kegiatan yang memfasilitasi seluruh partisipan festival untuk berekspresi seni dan berbagi cerita dari komunitasnya masing-masing secara santai dan penuh semangat kekeluargaan. Kegiatan ini difasilitasi oleh Ridzki Pugaan dan Tim FFPJ, bersama-sama dengan perwakilan peserta. Improvisasi, kolaborasi dan aksi-aksi seni yang digarap dengan penuh kegembiraan menjadi bagian dari malam apresiasi yang hangat, akrab dan ceria. Penampilan seluruh peserta yang dibagi dalam beberapa kelompok semakin menghangatkan suasana. Awalnya peserta diajak untuk berbaur dengan teman yang berbeda daerah. Tidak disangka setiap kelompok yang dipilih dapat memberikan penampilan yang unik dengan waktu minim yang disediakan oleh panitia. Para peserta terlihat sangat antusias. Keakraban terjadi dan seluruh peserta menjadi keluarga baru. Acara ditutup dengan menari bersama yang dipimpin oleh peserta dari Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur.

 

Selanjutnya, pada hari kedua diadakan Kelas Seni dan Kreativitas yang merupakan sebuah forum diskusi partisipatif yang diharapkan akan menambah wawasan seni dan kreativitas partisipan Festival Film Pelajar Jogja. Kelas ini dipantik oleh Nanang Rakhmad, M.Sn., seniman sekaligus Dosen di Institut Seni Indonesia Yogyakarta. Nanang mengungkapkan, bahwa seni adalah media komunikasi. Hal apapun bisa disalurkan melalui seni, termasuk kecintaan Nanang terhadap Garuda.  “Seni merupakan media komunikasi”, ungkap Nanang. Ia mengapresiasi lambang negara Garuda melalui film, buku, dan wayang. Film berjudul “Garuda”, buku berjudul “Mencari Telur Garuda”, dan “Wayang Pulau” merupakan wujud dedikasinya di dalam mengapresiasi lambang negara. Ketertarikan Nanang akan Garuda juga membuatnya berinisatif untuk mendirikan Museum Garuda. Melalui aktivitasnya ini Nanang berharap generasi muda lebih memiliki respek terhadap negara dan bangsa.

 

Seiring dengan kegiatan seminar nasional, kelas, dan forum pendidik, FFPJ juga menyelenggarakan screening film terpilih dari para nomine yang berasal dari beberapa daerah di Indonesia. Progam pemutaran film terpilih ini merupakan serangkaian pemutaran film pilihan panitia FFPJ. Selain memberikan ruang kepada para nomine untuk menunjukkan karyanya, panitia juga memutar karya-karya terpilih lainnya untuk diapresiasi oleh partisipan festival. Pemutaran film dibagi dalam 5 segmen selama dua hari acara FFPJ berlangsung, dengan durasi masing-masing sesi kurang lebih satu setengah jam.

 

Pelaksanaan Acara Puncak FFPJ ke-8 mendapatkan sambutan baik dari para pelajar yang hadir di lokasi maupun yang memantau dari jauh menggunakan media sosial. Sejak hari pertama, Sabtu 16 Desember 2017, seluruh peserta yang hadir mengikuti rangkaian acara dengan penuh semangat. Sebagian peserta bahkan sudah datang ke lokasi sejak Jumat sore. Walaupun panitia sudah memberitahu seluruh peserta yang mendaftar secara online, bahwa peserta baru diperbolehkan memasuki wisma pada Sabtu pagi, panitia tetap menerima peserta dan melayani sebaik-baiknya. FFPJ menerima karya sejumlah 181 film tahun 2017 ini dari berbagai penjuru Nusantara. Sebanyak 15 penghargaan telah disiapkan untuk karya-karya terpilih. Setiap kategori yang dikompetisikan telah disiapkan sebuah penghargaan yang dipersembahkan oleh lembaga mitra FFPJ. Apresiasi yang berasal dari lembaga mitra ini bertujuan untuk memperkenalkan partisipan kepada isu-tema dan para pihak yang memiliki perhatian terhadapnya. Harapannya adalah partisipan semakin menyadari, bahwa isu-tema yang dipilih untuk diolah menjadi karya seni film memiliki kaitan erat dengan persoalan sehari-hari yang akan dihadapi ke depan.

 

Pengumuman dan pemberian penghargaan untuk karya-karya terpilih dilakukan di penghujung acara, Minggu siang, 17 Desember 2017. Rani Akustik membuka acara dengan lagu-lagu yang memiliki pesan kuat tentang persoalan sosial. Setelah ratusan partisipan FFPJ yang memenuhi aula Pondok Pemuda Ambarbinangun mendengarkan lagu-lagu dengan lirik progresif yang mencerahkan, pembawa acara mengumumkan para penerima penghargaan. Festival ditutup dengan ucapan syukur karena seluruh rangkaian acara berjalan dengan lancar.

 

Penerima penghargaan Kompetisi Nasional Festival Film Pelajar Jogja #8 2017:

 

PENGHARGAAN PENERIMA
Yudhistira Award

(Tingkat SD/setara)

“PR PKN”

MIN Cempala Kuneng, Pidie, Aceh

“Damai Itu Indah”

SD Pius, Cilacap, Jawa Tengah

“Kejujuran Sahabat”

SDN Arjowinangun 1, Malang, Jawa Timur

Garuda Award

(Tingkat SMP/setara)

“Teman”

SMPN 1 Muntilan, Jawa Tengah

Garuda Award

(Tingkat SMA/setara)

“Gado-gado dan Kopi Hitam”

SMK Muhammadiyah Majenang, Jawa Tengah

Grabag Award

(Tingkat SMA/setara)

“Sesal Nabilah”

SMAN 1 Mempawah Hilir, Pontianak, Kalimantan Barat

Saraswati Award

(Tingkat SMA/setara)

“Liburan”

SMK Pasim Plus, Sukabumi, Jawa Barat

Wibisana Award

(Tingkat SMA/setara)

“Rob”

SMKN 2, Pekalongan, Jawa Tengah

Gong Award

(Tingkat SMA/setara)

“Pohon Harapan”

SMAN 1, Ketapang, Kalimantan Barat

Antasena Award

(Tingkat SMA/setara)

“Beras Bosok Kanggo Rakyat”

SMAN 2, Purbalingga, Jawa Tengah

Anak Merdeka Award

(Tingkat SMA/setara)

“Keterbatasan di Tengah Kesempurnaan”

SMK Yadika, Pagelaran, Pringsewu, Lampung

Perempuan Award

(Tingkat SMA/setara)

“Beauty Inside You”

SMA Talenta, Bandung, Jawa Barat

Merapi Award

(Tingkat SMA/setara)

“Tugu Peringatan”

SMA Darunnajah, Banjarnegara, Jawa Tengah

Jas Merah Award

(Tingkat SMA/setara)

“Tugu Peringatan”

SMA Darunnajah, Banjarnegara, Jawa Tengah

Bagong Award

(Tingkat SMA/setara)

“Dampak”

SMK Pasim Plus, Sukabumi, Jawa Barat

Gending Award

(Tingkat SMA/setara)

“Nyanyian dari Pesisir”

SMKN 1, Karanggayam, Kebumen, Jawa Tengah

Baskara Award

(Tingkat SMA/setara)

“Bersatu Kita Teguh Bercerai Kita Terbakar”

SMK Pasim Plus, Sukabumi, Jawa Barat

 

 

 

 

 

 

Tags:

You Might also Like

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *