SMKN 3 Batu Jawa Timur Langganan Menang Di Festival Film
TOREHAN prestasi yang diraih siswa menjadi parameter penting keberhasilan sekolah dalam mendidik murid. Di balik banyaknya prestasi, terutama bidang perfilman, yang diraih SMK Negeri 3 Batu tak lepas dari tiga sosok guru. Mereka ikut mengantarkan anak didiknya meraih pengakuan di level nasional hingga internasional. Seperti apa proses kreatifnya?
Beruntung, mungkin itu kata yang paling cocok untuk murid SMKN 3 Batu. Bagaimana tidak, sekolah ini mendapat kehormatan diundang mengikuti seleksi film festival yang digelar di Jepang akhir tahun lalu. Sebelumnya, film pendek berjudul Angen hasil kreasi siswa sekolah itu lolos dalam seleksi yang dilakukan kedutaan Jepang.
Sederet prestasi yang mengharumkan nama sekolah juga dihasilkan para siswa lewat film. Dimulai tahun 2010, mereka berjaya di ajang Festival Lomba Seni Siswa Nasional (FLS2N). Film yang berjudul DotVlog Jaling dan Uru-Uru menyabet empat prestasi sekaligus.
Berbagai keberhasilan itu tentu saja tak lepas dari sejarah panjang SMKN 3 Batu yang terbilang cukup miris. Ary Agung Wibowo SSn, kepala jurusan (kajur) broadcasting SMKN 3 Batu termasuk sosok penting di balik keberhasilan sekolah ini di bidang film. Dimulai saat Kota Batu menjadi kota tersendiri tahun 2004, Kementerian Pendidikan menggali potensi daerah untuk membuka sekolah kejuruan.
”Melihat adanya banyak tower stasiun TV di Oro-Oro Ombo, akhirnya diusulkan untuk dibuka jurusan broadcasting dan multimedia,” ungkap Ary.
Berdirinya SMKN 3 Batu juga tak sepenuhnya berjalan mulus. Pasalnya, sekolah ini dulu sempat menumpang di SMPN 4 Batu karena belum memiliki gedung.
”Kami harus bergantian menggunakan ruangan,” terangnya.
Pembagiannya, pagi sampai pukul 12 siang digunakan murid SMPN 4 Batu. Baru setelah pukul 1 siang sampai sore, lokal sekolah digunakan murid SMKN 3 Batu. ”Itu pun siswanya cuma ada 22 murid,” imbuh Ary.
Baru di tahun 2010, SMKN 3 Batu mendapat lahan dari tanah kas Desa Sumberejo seluas 3.400 meter persegi untuk dibangun sekolah. Setelah memiliki gedung sendiri di tahun 2011 itulah, prestasi demi prestasi dihasilkan sekolah ini. Total sudah 35 prestasi yang berhasil diraih, baik tingkat regional hingga nasional.
”Rata-rata level nasional, termasuk konsistensi juara di Festival Lomba Seni Siswa Nasional (FLS2N),” kata Ary.
Kali pertama juara tingkat nasional itu di tahun 2010, dalam waktu 10 hari, tiga prestasi didapat. Di antaranya adalah menjadi juara di kompetisi FLS2N bidang Film Dokumenter, Malang Film (MAFI) Festival, dan Festival Film Pelajar Indonesia (FFPI).
”(Proses pembuatan filmnya) itu ngrekamnya masih pakai handycam biasa,” kenang Ary.
Menurut dia, salah satu kunci utama film mendapat apresiasi luas karena cara mengambil gambar yang benar, gambar fokus semua, dan musik orisinal dari karya murid.
Sementara itu, berbeda dengan jurusan broadcasting yang sudah ada sejak 14 tahun lalu, bidang perfilman lahir baru satu semester. Berawal dari program pemerintah terkait industri kreatif yang disampaikan Joko Widodo saat menghadiri Hari Film Nasional, 31 Maret 2016.
”Lalu kami mengusulkan ke wali Kota Batu jika Kota Batu cocok untuk dibuka kelas perfilman,” terang Ary. ”Dalam seni audio visual kan ada kategori drama dan non-drama, film dibuka untuk peminat non-drama itu,” imbuhnya.
Sejak adanya jurusan perfilman, murid dan guru dapat lebih mendalami dunia film. Kajur Perfilman Ady Wicaksono SPd SSn MT menyatakan, meski masih berusia muda tetapi sudah bekerja sama dengan negara lain.
Sehingga mempengaruhi awareness nama baik sekolah itu sendiri. Tidak hanya sebagai guru, keberadaan Ady juga membantu proses pembuatan film. Film berjudul Angen contohnya, dirinya ikut turun langsung sebagai executive producer.
Tugasnya mengatur, mengakomodasi kebutuhan-kebutuhan yang diperlukan dalam proses pembuatan film.
”Anak-anak yang terlibat juga kami fokuskan ke praktik langsung, jadi benar-benar diterjunkan untuk membuat film,” jelasnya.
Untuk menunjang hal itu, murid yang bertanggung jawab dengan produksi diizinkan tidak mengikuti kelas. Sehingga mereka bisa fokus di depan komputer untuk mengedit film.
”Karena tuntutan SMK harus punya skill dan salah satu yang bisa mewadahi (skill) itu adalah produksi,” terang Ady.
Selama proses produksi film, sekolah memberi izin untuk tidak masuk kelas bagi pendamping atau supervisor. Hal tersebut sudah menjadi kebiasaan yang sudah dipahami pihak sekolah maupun siswa.
Motivasi yang membuat murid-murid berkarya adalah membuat mereka percaya diri. ”Menyadarkan bahwa sebenarnya kita mampu dengan segala project dan tantangan,” tegas Ady.
Selain itu, sekolah memberi kesempatan murid baru untuk menambah jam terbang produksi. ”Sengaja melibatkan kelas sepuluh yang secara praktis memang mereka belum waktunya,” terangnya.
Terlebih, SMKN 3 Batu sudah ada jalan untuk menuju prestasi internasional, berangkat dari prestasi yang konsisten di tahun-tahun sebelumnya.
”Minimal sekarang kita sudah punya pintu yang sifatnya jaringan internasional,” ungkap Ady.
Kesempatan tersebut merupakan hasil masuknya SMKN 3 Batu dari bagian konsorsium The Southeast Asian Ministers of Education Organization (SEAMEO), ASEAN. Salah satu organisasi internasional untuk memajukan pendidikan, ilmu pengetahuan, dan kebudayaan Asia Tenggara.
Di samping itu, perlunya pembimbing di lapangan juga sangat berpengaruh pada hasil akhir. Untuk itu, ada sosok Lingga Galih Permadi yang menjadi supervisor untuk membina murid-muridnya.
Lingga adalah alumnus SMKN 3 Batu yang memiliki latar belakang pendidikan dari dunia perfilman. Lulus dari Institut Seni Indonesia (ISI) Jogjakarta tahun 2014 lalu, dia terpanggil untuk mengabdi di almamaternya. Salah satu resep mutakhir yang dimiliki oleh SMKN 3 Batu adalah memiliki supervisor yang linier dengan sekolahnya.
”Kan ada tuh, misal guru perfilman tapi lulusan elektro,” ungkapnya.
Contoh keberadaan guru yang memiliki disiplin ilmu yang linier tersebut masih menjadi PR tersendiri bagi banyak sekolah. Berbeda dengan SMKN 3 Batu yang beruntung alumnusnya mau kembali dan ikut membangun almamaternya.
Selain itu, mengangkat kekuatan lokal dalam film buatannya menjadi ciri khas yang tidak bisa dimiliki orang lain.
”Karakter seperti inilah yang tidak ada duanya,” terang Lingga. Sebagai penambah karakter, dibutuhkan pula tone yang dipakai. ”Kalau untuk menekankan pesan sedih, biasanya kami pakai warna kuning atau warm,” terangnya.
Sumber:
https://radarmalang.id/langganan-menang-di-festival-film-nasional-ternyata-begini-perjuangan-smkn-3-batu/ –Langganan Menang Di Festival Film Nasional, Ternyata Begini Perjuangan SMKN 3 Batu, tayang 15 Januari 2019
Pewarta : Mochamad Sadeli
Copy Editor : Amalia Safitri
Penyunting : Ahmad Yani
