Kaprodi Film dan TV FSMR ISI Jogja: Film Memiliki Kekuatan
FILMPELAJAR.COM, YOGYAKARTA – Ketua Program Studi Film dan Televisi Fakultas Seni Media Rekam Institut Seni Indonesia Yogyakarta (FSMR ISI), Latief Rakhman Hakim, M.Sn., menjadi pemateri utama kelas Hamemayu PendidikN Seni Film. Kegiatan ini diselenggarakan Sabtu, 10 Desember 2022, pukul 13.00-14.30 wib di aula atas Pondok Pemuda Ambarbinangun dalam rangka Festival Film Pelajar Jogja XIII – 2022.

“Film memiliki kekuatan. Ada yang menganggapnya realitas. Ada yang menghayati dengan sungguh-sungguh ketika menonton film. Pada titik tertentu film mampu mempengaruhi pemikiran, sikap dan perilaku penontonnya,” kata Latief.
Peserta yang didominasi pelajar tingkat SMA/SMK antusias mengikuti kelas ini. Paparan pemateri memperoleh tanggapan beragam. Salah satunya Sahila dari SMKN 3 Batu, Jawa Timur. Ia menyampaikan pernyataannya dengan penuh semangat.
“Film yang saya bikin bersama teman-teman di sekolah lebih menceritakan keresahan masyarakat Indonesia. Sudut pandangnya dari seorang petani. Melalui film Jono dan Kepala Kardus kami berharap keluh kesah petani dapat didengar pemerintah dan nasib para petani semakin diperhatikan,” ucap Sahila.
Selain itu, peserta lainnya, Faris, menyampaikan konsepnya tentang tujuan pembuatan film. Ia merasa film memiliki peran penting dalam promosi.
“Saya ingin memperkenalkan desa saya ke pihak luar. Harapannya desa saya yang memiliki potensi wisata dapat lebih terkenal. Kemudian banyak wisatawan di Indonesia yang berkunjung. Dari sini bisa membantu membantu perkembangan perekonomian,” tegas Faris.
Bahasan di kelas ini yang menarik lainnya adalah tentang pentingnya pendidikan formal film. Para peserta festival juga menanyakan ke Latief, apakah untuk menjadi seorang film maker professional harus sekolah film formal.
Latief menyampaikan, pendidikan seni film penting. Cara untuk menempuhnya bisa bermacam-macam. Salah satunya belajar mandiri-otodidak. Kesungguhan dalam belajar menjadi pondasi. Konsistensi salah satunya. Jika ingin mendalami film secara akademik, sewajarnya melalui bangku sekolah/perkuliahan di kampus.

“Pendidikan di mulai dari diri sendiri, keluarga, lingkungan, dan seterusnya. Belajar seni film tidak beda. Bisa diawali dari diri sendiri dengan berusaha menyukai film. Menonton beragam film bisa menjadi percobaan. Jika sudah suka, kemudian bisa dilanjutkan dengan belajar membuat film. Bisa sendiri, juga kolaborasi. Kerja pendidikan tidak akan pernah berhenti jika sang pemelajar sungguh-sungguh mau berproses serius di dunia film,” pungkas Latief. (*)
