Disharmoni di Armonia: Film Pendek Eksperimental Karya Pelajar SMKN 1 Cimahi Jawa Barat
Armonia
Dante (diperankan Ahmad Roffadhil), pemain biola, dan Bulan (diperankan Syahranie), penari, tampil bersama dalam sebuah panggung pertunjukan. Sejak awal, penampilan mereka sudah memancing mata untuk terjaga. Kemudian, tempo film sound, khususnya musik, semakin cepat. Disharmoni semakin terasa. Apa yang ditawarkan film pendek ini untuk penontonnya?
Petikan adegan di atas adalah bagian dari film pendek Armonia produksi SMK Negeri 1 Cimahi, Jawa Barat. Film pendek eksperimental produksi tahun 2024 ini disutradarai Muhammad Akmal Al Fajri dan produser Adelia Alfita Ramadhani. Durasi film 5 menit 51 detik dan sudah termasuk credit title.
Menilik judulnya, Armonia memiliki padanan dalam bahasa Inggris, Harmony. Istilah ini juga berasal dari bahasa Yunani Harmonia melalui bahasa Latin. Kata ini memiliki arti ‘menyatukan’, mirip dengan arti modern dari susunan bagian yang teratur, selaras, dan estetis. Kalimat ini dikutip dari armoniajournal.com. Sedangkan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) arti dari harmoni/har·mo·ni/ adalah pernyataan rasa, aksi, gagasan, dan minat; keselarasan; keserasian: harus ada — antara irama dan gerak.
Ide
Ide film Armonia menarik diperhatikan. Ini adalah tentang upaya pembuatnya untuk menghadirkan chaos dengan tujuan tertentu dalam sebuah panggung pertunjukan. Kontras yang ditampilkan menghasilkan kekacauan, bising, ketegangan. Di sinilah permainan elemen sinematik dieksplorasi. Dalam film eksperimental, semangat bermain-main, eksplorasi, iseng, mendapatkan tempat. Pengalaman personal pembuat film juga dapat berkontribusi. Ekspresi personal yang muncul dalam visual maupun suara juga berpotensi tak terduga. Armonia tampak masuk di kriteria ini.
Eksperimental
Semangat eksperimentasi dalam dunia film sudah memiliki perjalanan panjang. Tulisan yang disusun Faozal Rizal di imaji.ikj.ac.id yang berjudul Eksperimental dalam Film: Sebuah Tinjauan Historis, menarik diperhatikan. Salah satu paragrafnya tertulis sebagai berikut:
Kata experimental dikemukakan sekitar tahun 1503 untuk pertama kalinya dari bahasa latin Experimentalis. Kata ini sangat dekat dengan bahasa kuno Perancis Esperimen atau Experimen, yang dalam bahasa latinnya juga disebut dengan Experimentum dan diterjemahkan sebagai Tentative atau Essai. Sedangkan secara isi, sebenarnya lebih dekat kepada kata Experiri yang juga dari bahasa latin yang artinya: mencoba.
Di paragraf lain juga terdapat hal yang menarik untuk diperhatikan:
Baru beberapa puluh (ratus -peny) tahun kemudian, tepatnya sekitar tahun 1929, Dziga Vertov menulis dalam teorinya tentang metode Kinoglaz/Kino Eye atau sebuah metode studi experimental-scientist dalam dunia visual. Revolusi Kinoglaz telah mengubah pengertian eksperimental dalam dunia sinema menjadi “baru” atau “avantgarde”.
Jadi, sinema eksperimental pengertiannya lebih dekat kepada sinema baru atau sinema avant-garde. Kata avant-garde sendiri sebenarnya dari bahasa Prancis yang sering juga disebut dengan Vanguard. Kata ini bisa diartikan sebagai pembaharuan atau experimental yang berhubungan dengan dunia kesenian.
Masih dalam artikel yang sama, terdapat paragraf menarik lainnya untuk diperhatikan:
Jika dilihat dari perjalanannya yang sangat panjang, kita bisa memahami bahwa film experimental; avant-garde; independent; underground benar-benar eksis secara historis. Secara kronologis mungkin kita bisa mengurutkannya mulai dari La Folie du Docteur Tube-nya Abel Gance (1915), bahkan bisa lebih jauh lagi pada film-film Melies hingga Love Making I-IV-nya Brakhage (1969). Eksperimental dalam sinema tidak berhenti sampai di sini saja, manusia hidup dalam dunia di mana komunikasi terus berkembang. Sepertl juga teknologi, bahasa ekspresi juga berkembang walaupun sisi personalitasnya mungkin lebih besar tapi tetap saja sebuah film eksperimental juga digunakan sebagai media komunikasi oleh senimannya, atau paling tidak orang yang menontonnya akan mempunyai impresi yang juga sangat personal terhadap film tersebut.
Berdasarkan beberapa kutipan di atas, ekspresi personal dari sebuah film eksperimental menjadi perhatian tersendiri. Hal ini dalam seni film dihadirkan pembuatnya melalui elemen sinematik visual dan suara. Adapun film sebagai media komunikasi juga penting menjadi perhatian pembuatnya karena akan menjadi sebuah tontonan yang memiliki potensi untuk diapresiasi dari berbagai sudut pandang.
Apresiasi
Armonia memperoleh penghargaan ketiga Kelir Award, yaitu Kategori Eksperimental dalam Program Kompetisi Nasional di ajang Festival Film Pelajar Jogja (FFPJ) XVI 2025. Film ini terpilih karena dinilai juri memiliki kekuatan ide-pernyataan-perspektif sesuai tema, ekspresi personal, cara bertutur, serta eksperimentasi bahasa visual dan suara. Emosi yang dihadirkan cukup terasa. Akting secara keseluruhan cukup potensial untuk dipadukan dengan kerja sinematografi dan artistik, sehingga simbolisasi lebih optimal. Tempo atau pengaturan durasi adegan dan kecepatan perpindahan antaradegan masih berpotensi untuk dioptimalkan agar lebih ekspresif (hal ini berhubungan dengan tersedianya production shot). Sedangkan tata artistik dan atmosfer secara keseluruhan cukup mendukung emosi film. Dari beberapa aspek yang cukup menarik ini, Armonia masih membutuhkan refleksi kritis agar lebih optimal dalam ‘mengganggu’ pikiran atau perasaan penonton di akhir film. (*)
